Seumuran belum tentu sepikiran.

Taken from my Multiply blogpost: Oct 28, 2008

ada yang sudah dilamar, tapi takut untuk menikah
ada yang sudah pumya anak dan tinggal dirumah
ada yang sibuk berbisnis, tidak memikirkan pasangan
ada yang menggabungkan tabungan, padahal belum diresmikan
ada yang sibuk belanja, dengan uang pasangannya
ada yang ingin backpacking, keliling asia
ada yang bekerja, tapi bersenang-senang juga

semua ini teman-teman seumuran saya, 25 tahun.semuanya membuat saya berpikir, apakah kehidupan saya sudah mencerminkan seorang manusia yang berusia seperempat abad?apakah saya masih kurang bersenang-senang?apakah saya kurang banyak mencoba? apakah saya terlalu cepat memutuskan?
..
sebelum saya berumur 24 tahun pun, saya sudah ingin sekali menikah. tepatnya, mimpi saya adalah tinggal berdua dengan dia. bukan backpacking, bukan berbisnis, bukan bersenang-senang. walaupun kadang saya berpikir, mungkin seru juga ya kalau saya belum menikah, dan masih bisa melakukan itu semua.masih bebas.
tapi, saya tidak akan mungkin bahagia walaupun bebas. saya tidak akan bahagia walaupun keliling asia. kalau tidak bersama dengan dia.
mungkin saya adalah perempuan berumur 25 yang memang tidak pernah bisa sendirian. jadi untuk teman-teman saya yang berumur 25 dan masih mengejar cita-citanya, just go for it.

karena saya sudah sukses mengejar cita-cita saya 🙂

Standard

Diwisuda.

Tanggal 20 November 2009, hari jumat.
Saya diwisuda lagi untuk kedua kalinya.
Well, sebenarnya wisuda pertama kali, karena waktu wisuda S1 di unpar, saya tidak datang.

Tapi, wisuda kali ini, saya harus datang, karena hari itu saya diberi gelar Ibu.
Alih-alih memakai toga, saya memakai baju rumah sakit.
Wisuda yang penuh darah dan air mata haru.
Wisuda yang penuh cakaran dan teriakan.

Ya, kadang saya merasa, jadi ibu itu seperti diwisuda dulu, baru menjalani kuliah.
Gelar ibu langsung diberikan, setelah kita melahirkan anak kita. Baru setelah itu, kita belajar seperti apa jadi ibu sebenarnya.
Merawat anak kita, dari umur 1 hari sampai nanti kita mati, itu waktu kuliahnya.

Anak kita yang jadi dosennya.
Dia yang akan memberikan kita mata kuliah setiap harinya.
Kuliahnya tidak pernah berhenti. Weekdays ataupun weekends, seorang ibu tetap belajar.
Selalu ada matakuliah baru tiap harinya.
Kadang, dosennya baik, cooperative, dan banyak senyum.
Kadang, dosennya cranky, maunya nempel terus sama kita, dan memberikan ujian mendadak.

Ujian prakteknya kadang susah.
Semua pelajaran yang sudah pernah kita dapatkan dari sang dosen, ternyata tidak bisa dipakai untuk menyelesaikan soal ujian.
Sang dosen mau kita berimprovisasi. Mau kita kreatif.
Mencari jawaban sendiri, mengandalkan insting dan belajar dari pengalaman.

Nilai yang diberikan berupa senyuman, ciuman, pelukan, dan kata-kata yang dia ucapkan.
“Mama” untuk pertama kalinya adalah seperti mendapatkan nilai A.
Langkah pertamanya adalah seperti mendapatkan IPK 3.8

Jangan malu bertanya pada mahasiswa lain.
Walaupun mereka punya dosennya masing-masing, tapi kadang dosen kita dan dosen mereka sama maunya.

Jangan ragu-ragu untuk menyontek dari internet.
Kadang, google lebih tahu jawabannya. Apalagi kalau sang dosen sedang tidak enak badan.

Tapi, jangan takut, setiap mahasiswa disediakan “pembimbing” oleh Tuhan.
Ia adalah ibumu, karena Ia pun dulunya mahasiswa, dan kamu sebagai dosennya.

Standard

Dear Ernest,

Kenapa kamu masih bertahan untuk menjadi suamiku sampai saat ini.
Kenapa kamu mau mulai mencintaiku sepuluh tahun yang lalu.
Kenapa kamu tidak pernah bosan untuk memberiku semangat, ketika aku sudah putus asa.
Kenapa kamu selalu bisa membuatku “kembali” ketika aku sedang tidak menjadi diriku sendiri.
Kenapa kamu mau berjanji dihadapan Tuhan untuk mendampingiku seumur hidupmu.
Kenapa kamu mau berbagi gen-mu untuk diberikan pada anakku.

Aku tidak tau jawabannya.

Yang aku tahu, Tuhan sedang menjagaku, lewat kamu.

Dear Ernest..

Aside

Siap?

Ketika kamu melihat anak kecil di mall dan kamu berpikir betapa lucunya dia.

Ketika kamu melihat keponakanmu yang baru lahir dan kamu tak sabar ingin menggendongnya.

Ketika kamu melihat anak-anak yang menggemaskan di iklan dan merasa hidupmu hampa karena tidak memiliki mereka.

Itu adalah tanda bahwa kamu ingin punya anak.

Bukan tanda bahwa kamu siap untuk punya anak.

Karena apa yang terjadi pada saat pembuatan iklan itu. Atau sesaat setelah kamu mengembalikan dia pada orangtuanya masing-masing, kamu tidak akan pernah tahu. Betapa dia adalah makhluk kecil yang bisa menghabiskan energi dan emosi. Betapa berbicara dengannya membutuhkan komunikasi tingkat tinggi dan sedikit telepati.

Kesiapan finansial, mungkin kamu bisa dapatkan. Banyak anak banyak rejeki katanya. Kesiapan mental, ini yang lumayan susah. Saya juga masih bergelut dengan ini. Sampai sekarang.

Susah untuk tidak berubah menjadi zombie, ketika setiap malam harus bangun mengganti popok dan menyusui, atau ketika dia berpikir bahwa siang adalah malam dan sebaliknya.

Susah untuk bermuka santai, ketika dia berteriak-teriak di tempat umum dan orang-orang mulai memandang dengan tatapan gak-becus-banget-sih-ngurus-anak.

Susah untuk menahan amarah, ketika makanan yang sudah kamu buat dengan susah payah, hanya dimuntahkan dan karena dia menolak makan, piringnya tidak sengaja tersenggol dan tumpahlah semuanya ke lantai.

Susah untuk tidak berteriak, ketika sesaat sebelum akan berangkat ke undangan, dia menumpahkan sesuatu ke baju barunya.

Susah untuk tetap tenang, ketika kamu sedang menyetir saat macet, dia menangis dan tidak bisa duduk dengan tenang lalu membuka sendiri car seat buckle nya.

Susah untuk tidak menjadi gila ketika, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, kamu harus menghadapi dia yang tidak mau melepaskan dirinya darimu.

Susah untuk berpikir bahwa kamu adalah ibu yang baik, ketika kamu ingin pergi dari semuanya. Kamu ingin punya kehidupan selain harus mengurusi dia.

Susah untuk berpikir bahwa kamu adalah ibu yang baik, ketika kamu tidak ingin menjadi ibu, untuk sebentar saja.

Tapi, bagaimana manusia kecil ini bisa bertahan hidup di dunia tanpa kita?

Kita yang memberikannya tempat tinggal selama 9 bulan.

Dia sudah terbiasa hidup bersama kita. Dia hidup dari kita.

Kita adalah rumah baginya.

Ayah, kakek, nenek, dan keluarga lainnya memang akan ada untuk dia. Tapi, yang paling menyenangkan baginya adalah kehadiran kita, ibunya, rumahnya.

Jadi, betapa egoisnya kita, manusia yang sudah lebih lama hidup di dunia, jika tidak melindungi dan mengajarkan dia bagaimana cara untuk bertahan hidup. Betapa egoisnya kita ketika menginginkan dia, dan tidak siap mengurusnya.

Tapi, menginginkan waktu untuk diri sendiri, sebentar saja, adalah tidak egois. Itu adalah logis.

Waktu dimana kita bukan lagi ibu dan istri. Tapi, kita adalah aku dan kamu. Perempuan yang hanya ingin menikmati waktu untuk menjadi perempuan. Dan setelah itu, kita bisa kembali menjadi ibu dan istri dengan semangat dan gairah baru. Semua senang.

Jadi, kesimpulanku, kesiapan (mental) bukan seperti bakat yang langsung diberikan Tuhan.

Itu adalah proses. Proses yang panjang dan kadang penuh air mata. Proses belajar yang tidak pernah berhenti. Dan beruntunglah kamu yang mengalami proses itu, karena kamu akan menjadi makhluk yang kuat.

Makhluk yang bernama, IBU.

Standard

Terima dirimu*

Terima dirimu, yang diciptakan Tuhanmu.
Dengan dua kaki dan dua tangan, atau mungkin kurang.
Terima dirimu, dengan ibu dan ayah yang tidak bisa kau pilih.
Karena mereka pun tidak bisa menentukan sendiri keturunannya.
Terima dirimu dengan kulit coklatmu dan rambut hitammu.
Karena Tuhan tau, jodohmu menyukai warna itu.
Terima dirimu dengan bakatmu, atau mungkin kemauan kerasmu.
Karena apalah artinya bakat tanpa kemauan keras untuk berusaha.
Terima dirimu dengan vaginamu dan penismu.
Karena alat reproduksimu adalah identitasmu, yang membuatmu menjadi dirimu hari ini.

Terima dirimu.
Maka orang lain akan menerimamu.

*jika kamu percaya Tuhan

Standard