#ceritakami Ep. 2: illa dan ben

Diagnosanya “keranjang sampah” ada sedikit ini dan sedikit itu. (Illa tentang Ben anaknya)

Denial. Kata ini paling cocok untuk menggambarkan perasaanku waktu Ben berumur kurang dari 2 tahun dan belum punya banyak perbendaharaan kata. Aku pikir, tidak ada yang salah dengan bahasa planetnya selama ini. Toh, aku, suamiku dan pengasuhnya mengerti apa yang dia minta.

Atau ketika aku dan suamiku memanggilnya dan dia tidak mau menoleh menjawab panggilan kami, aku pikir itu hanya sesekali dimana Ben sedang cuek dan merasa malas saja. Lagipula, Ben kan anak laki-laki, yang biasanya kemampuan motoriknya dulu yang berkembang, baru kemampuan bicaranya. I don’t think there’s anything wrong with him, and life goes on.

Semua berjalan seperti biasa. Aku harus bekerja dari jam 7 pagi, tapi jam 5 sore sudah bisa sampai di rumah. Aku merasa lebih beruntung dari teman-temanku yang working moms juga tapi jam kerjanya random, harus pulang larut malam dan kehilangan momen cuddling sama anak di rumah sebelum mereka tidur.

Setidaknya, anakku akan tahu secara pasti kapan ibunya pergi atau pulang. Walaupun kadang, ketika Ben melihatku sudah berpakaian lengkap untuk pergi ke kantor, dia akan lari ke pelukan susternya. Seperti memberitahuku bahwa, karena aku memilih untuk bekerja dan meninggalkan dia, dia juga bisa memilih untuk meninggalkan aku. Meninggalkanku dalam balutan baju kerja dan kesedihan.

Sedih, tapi aku harus tetap naik ke bis antar jemput yang akan membawaku ke kantor. Ah, sudahlah. Itu cerita lain.

Ketika Ben berumur 2 tahun 6 bulan, dia diagnosa dengan PDD NOS (Pervasive Development Disorder, Not Otherwise Specified) intinya ada sedikit ciri2 autis tapi tidak termasuk spektrum itu, ada sedikit ciri ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) tp tidak masuk juga – kasarnya diagnosa keranjang sampah, dimana ada sedikit begini sedikit begitu.

Diagnosa yang sering terjadi pada anak-anak yang setiap hari ditinggal bekerja oleh ibunya.

Yang paling menohok dari semuanya adalah “Kenapa baru sekarang?” Itu yang selalu ditanyakan padaku ketika aku membawa Ben ke klinik tumbuh kembang dan konsultasi ke psikolog anak.

Iya ya. Lalu aku coba menanyakannya pada diriku sendiri. Kenapa baru sekarang aku membawanya? Dan kenapa harus Ben? Kenapa?

Banyak jawaban yang melintas dipikiranku. Banyak penyesalan. Banyak keinginan untuk menyalahkan diri sendiri. Banyak tangisan. Tapi semuanya gak akan membantu Ben untuk menjadi lebih baik.

Ben butuh aku. Dari dulu Ben butuh aku, tapi ternyata aku kurang menyadari itu.

Ben butuh aku sebagai stimulasi bukan TV. Ben butuh aku untuk temen ngobrol bukan susternya. Ben butuh aku untuk temen main bukan iPad.

Semua itu benar. Tapi, aku juga harus bekerja. Dengan gaji yang tidak spektakuler tapi cukuplah untuk keluarga kami. Yang spektakuler adalah tunjangan kesehatannya. Bisa membuat iri teman-temanku yang sama-sama bekerja.

Dari mulai masa kehamilan, melahirkan, semua biaya imunisasi, sampai ke biaya sunat untuk yang punya anak laki-laki, semua ditanggung kantor. Kalau ke rumah sakit rekanan, kami tidak harus membayar sepeserpun, dan untuk rawat inap jatahnya juga kamar VIP. Wow banget kan? Bukannya aku mendoakan aku, suami, dan anakku untuk terkena penyakit, tapi karena suamiku kerja di dunia entertainment yang tidak ada tunjangannya, siapa lagi yang akan mengcover semuanya kalau bukan dari kantorku?

Dan kalau kamu berpikir, “Wah suamimu si A? Dia kan sering muncul di TV, masa sih kamu masih harus kerja? Artis kan banyak duitnya” Berarti pikiranmu sempit. Dunia entertainment cuma glamor di luarnya aja, dalemnya sih biasa. Dunia entertainment ga bisa bikin kami jadi gampang buat mengajukan KPR. Karena pendapatannya fluktuatif, kadang ada job kadang nganggur, jadi KPRnya harus atas namaku.

Sekarang, Ben sedang menjalani terapi wicara dan Sensory Integrasi seminggu sekali, dimana dia akan ngobrol dan bermain bersama terapisnya, padahal sebenarnya sedang dia sedang di stimulasi. Dan itupun Ben harus masuk ke waiting list, karena jadwal terapinya sudah penuh.

Dalam hati, aku berpikir, kalau penuh begini, berarti banyak yang mengalami seperti yang aku dan Ben alami. Kami tidak sendiri. Diluar sana, ada seorang Ibu yang merasakan apa yang aku rasakan. Rasanya ada sedikit beban yang terlepas dari diriku.

Dukungan suami, dan keluarga juga penting sekali bagi aku dan Ben. Mereka tidak mempermasalahkan kenapa Ben bisa begini, tapi apa yang bisa dilakukan untuk Ben. Lagi- lagi, menambah sedikit kelegaan dalam diriku.

Untungnya semua biaya terapi Ben di cover oleh kantor. Untung? Orang Indonesia banget ya? Semuanya masih ada “untung”nya.

Melihat hal yang baik, diantara yang buruk.

Tapi, kalau dipikir-pikir semua yang terjadi selama ini memang semuanya “keuntungan”. Karena, Ben boleh terjadi dalam hidupku.

Standard

#ceritakami Ep. 1: jamie dan jazz

“I was freakin’ scared that I won’t do well as a parent..” Jamie (31)

Gue sama sekali gak ngerasa punya naluri keibuan, sebelum punya anak. Gak kebayang bakalan jadi ibu yang kayak apa. Gue bukan tipe yang gemes kalo liat anak kecil, even sama keponakan sendiri. Biasa aja.

Setelah menikah, sepertinya mempertahankan pekerjaan di law firm yang lumayan demanding, akan jadi kurang ideal buat keluarga kecil gue. Akhirnya, gue memilih kerja jadi PNS yang bisa pulang tenggo 🙂 Masalah gaji gede atau rejeki? Gue percaya semuanya udah ada yang ngatur. Rejeki mah darimana aja.

Rejeki datang buat gue dan suami, dalam bentuk baby Jazz, tanggal 11 November 2009. Dan seperti semua perempuan bekerja yang akhirnya hamil, gue juga ngambil cuti dari kantor. Tanpa ada keraguan dalam hati, gue yakin setelah cuti gue akan bekerja lagi. Ya karena, yang gue tau, gue selama ini kerja. Selesai kuliah ya kerja. Ga pernah kebayang kalo gue akan tinggal dirumah setiap hari, dari pagi sampe malem, sampe pagi lagi, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi, akhirnya gue resign. Dua bulan setelah gue mengajukan cuti hamil, gue memutuskan akan tinggal dirumah untuk Jazz. Gue merasa Jazz butuh gue. Dan sekali lagi, rejeki mah darimana aja. Agak ngeri sih sebenernya, mikirin single income dari suami doang tiap bulannya. Apalagi kalo pengen tinggal dengan nyaman di Jakarta, belum lagi mikirin uang sekolah buat Jazz nanti. Tapi, kayaknya gue dikasi jawaban sama Tuhan. Pelan-pelan, suami gue karirnya makin naik, yang mengiringi kenaikan pendapatan juga. Dan, dapet bonus karena suami jarang pulang malem di kantor yang sekarang ini. Yeah! Score! 😀

See? Rejeki dateng sendiri kan?

Namun, naluri keibuan gue tidak datang dengan sendirinya. Memutuskan untuk tinggal dirumah bersama Jazz dan gak ngantor lagi adalah pilihan yang tepat. Secara teori. Tapi, apakah keputusan ini tepat buat gue secara pribadi? Gue yang sebagai Jamie, bukan mamanya Jazz? Kalau keputusan ini tepat, kenapa setiap ngeliat cewe-cewe yang mau ngantor atau ada lowongan kerja, gue ngerasa ada yang sakit di dada gue. Itu seharusnya gue.

Lalu gue inget lagi ketika awal Jazz lahir. Ketika gue seperti masih berada dalam dunia gue sendiri. Ketika mengalami sendiri yang sering orang bilang dengan baby blues syndrome. Apa sih ini sebenernya? Setiap kejadian kecil, setiap hari, rasanya selalu ada yang salah. Pengen kabur, pengen lari, pengen nangis. Pengen enggak berada disini, di dekat bayi kecil ini.

Tapi bayi kecil ini gak salah. Jazz sama sekali gatau apa-apa. Gue sendiri yang tau penyebabnya.

Gue kecewa sama nyokap. Sebagai ibu yang udah pernah ngelahirin, dia seharusnya tau apa rasanya. Gimana capeknya, deg-deg an nya, sakitnya perempuan waktu melahirkan. Dia harusnya tau gimana caranya menenangkan gue dan bukan membuat gue merasa bersalah. Saat itu, gue butuh dia sebagai ibu yang perhatian, bukan ibu yang memberikan penilaian.

Sesaat setelah ngelahirin Jazz, gue dikasih tau dokter kalo ada komplikasi, katanya ada pembuluh darah yang pecah dan harus dioperasi. Jadi, setelah berjuang di ruang bersalin untuk ngeluarin Jazz, gue harus masuk ke ruang operasi dengan bius total untuk memperbaiki pembuluh darah itu. Ironis, karena gue pengen banget lahiran normal, makanya gue pilih rumah sakit ini. Tapi ternyata, gue harus dioperasi juga.

Gue ga pernah ngeluh kalo sakit fisik. Tapi, setiap bekas operasi ini terasa sakit atau linu, gue pasti nangis. Gue nangis karena, setiap rasa sakit itu datang, saat itu pula sakit hati gue ke nyokap kambuh lagi. Sakit hati karena nyokap menilai rumah sakit pilihan gue dan suami bangunannya tua, beda sama rumah sakit pilihannya yang kayak “hotel”. Sakit hati karena nyokap berulang kali bilang, coba kalo gak di rumah sakit ini, pasti gue ga akan di operasi. Sakit hati karena waktu ngeliat gue kesakitan, nyokap bukan memberikan gue ketenangan, malah nge judge gue.

Itu yang jadi sumber baby blues gue.

Dan siapa yang kena imbasnya? Sudah pasti Jazz. Bayi kecil ini, pernah gue bentak waktu dia gak mau berhenti nangis. Karena gue terlalu sedih, down, depressed (apapun lah you name it) untuk mau mencoba mengerti apa arti tangisannya.

Gue terlalu tidak peduli untuk menggendong dia ketika dia menangis. Gue kebal denger tangisannya. Bukan karena gue pengen membiasakan dia untuk jadi “tidak manja” tapi karena I just dont care.

But, that’s the baby blues talking.

Dan sampai saat ini, gue merasa berhutang sama Jazz, untuk membayar masa-masa “kegelapan” itu.

Maka, gue berhenti kerja, dan tinggal dirumah bersama Jazz. Mencoba untuk mengerti apa itu “Ibu”. Punya gak gue, “naluri keibuan”? Mencoba untuk meraba-raba apa yang terbaik untuk dia. Mencoba untuk tidak selalu menelpon suami ketika ada hal kecil yang sepertinya membahayakan Jazz (ya, dulu gue pikir kejeduk dikit, bisa bikin Jazz kenapa-kenapa).

Semua yang gue lakukan, berdasarkan keragu-raguan. Karena gue takut itu bukan yang terbaik buat Jazz. Karena, gue pun meragukan diri gue sendiri sebagai seorang ibu.

Sampai akhirnya gue sampai pada kesimpulan. Gue nyokapnya Jazz. Apapun yang terjadi, Jazz is stuck with me.

Dari situ gue sadar kalo, bukan aja gue harus ngerawat Jazz seumur hidup gue, tapi Jazz juga dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus mau dirawat oleh gue. So, is it going to be a win-win or a lose-lose situation? That’s the choice I have to make.

And I chose to be happy. With Jazz.

Standard

#ceritakami Prolog

Jadi ibu itu pilihan.

Kecuali, jika pada suatu malam ada burung bangau yang datang dan mengetuk pintu rumahmu, menyerahkan keranjang berisi seorang bayi.
Tapi, itu hanya terjadi di buku dongeng.

Eh, tapi kalau dipikir-pikir lagi, jadi ibu memang seperti membuat buku dongengmu sendiri. Buku dongeng yang akan membuat air matamu mengalir atau tertawa geli sendirian ketika kau membacanya, seperti orang kurang waras. Hehehe.

Kadang jadi ibu memang bikin kita banyak mengalami hal-hal yang “kurang”. Kurang tidur, kurang makan, kurang hang out sama temen, kurang istirahat, kurang berhubungan intim sama suami saking capeknya, dan sampai merasa kurang waras tadi.

Buat yang belum punya anak, atau lagi hamil, jangan takut ya. Walaupun seperti orang gila, tapi kita adalah orang gila yang paling bahagia. Dan kita gilanya bareng-bareng 🙂 Bareng sama semua perempuan diseluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia yang juga punya anak dan merasakan kegilaan yang sama. Walaupun beda bahasa, budaya, dan beda anak juga, tapi masalahnya biasanya sih berkisar disitu-situ aja.

Delapan orang perempuan Indonesia yang berbeda latar belakang ini, juga memilih untuk menjadi ibu. Tidak ada burung bangau yang datang kerumahnya. Semuanya atas dasar cinta.

Mereka secara tidak sengaja bisa dipertemukan dan dipersatukan oleh keinginan perempuan yang paling mendasar, yaitu untuk curhat. Terutama curhat tentang bagaimana mengurus dan membesarkan anak. Yang ternyata setiap curhatan bisa dimengerti oleh yang lain dan kadang mendapatkan solusi, atau hanya mendapatkan perasaan lega karena bisa berbagi.

Sekarang, delapan orang ini akan membagikan cerita kepada kamu, sedikit penggalan dari dongengnya masing-masing. Cerita yang akan membuatmu berpikir, bahwa kamu tidak sendiri. Dan cerita yang bisa jadi, adalah ceritamu juga.

Selamat menyelami, #ceritakami.

Standard