#ceritakami Ep. 4: Sasha dan Saka

Kasian ya sha, jadi anak kamu. Ditinggal mamanya terus” (temen-temen kantor Sasha)

Ya, selain jadi mamanya Saka, aku juga seorang istri, dan arsitek. Kebetulan arsitek yang bukan bekerja dibelakang meja, tapi yang harus sering keluar kota untuk melihat proyek yang sedang berjalan. Pekerjaan yang sangat demanding dan menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Tapi, kenapa masih kukerjakan juga ya sampai sekarang?

Mungkin ini yang dibilang orang-orang dengan passion, istilah yang lagi naik daun. Semua orang sedang mencoba mencari passionnya masing-masing. Apakah benar yang mereka kerjakan sekarang, profesi mereka, sudah sesuai dengan passion. Aku pikir, aku cukup beruntung karena sudah bisa menemukan passionku. Karena katanya kalau kita mengerjakan sesuatu yang benar-benar passion kita, waktu yang berjalan itu gak kerasa, dan kita benar-benar menikmati pekerjaan kita. Dan memang itu yang aku rasakan sekarang ini.

Tapi, bukan berarti aku lebih mementingkan passion daripada Saka.

Saka selalu jadi nomer satu. Apapun untuk Saka, terutama tempat tinggal yang nyaman dan pendidikan yang terbaik. Karena dalam keluargaku, pendidikan adalah yang utama, dan nilai itupun terbawa sampai sekarang. Tapi, untuk mewujudkan itu semua, aku perlu bekerja. Karena aku dan suamiku memulai semuanya dari nol. Kami bukan berasal dari keluarga yang berada, kami hanya punya semangat dan kemauan untuk bekerja keras, selain itu kami juga hanya punya kulkas dan tempat tidur di kontrakan.

Kadang lucu kalau inget-inget masa itu.

Sekarang, kami sudah tidak tinggal di kontrakan itu, dan sudah punya furnitur lain selain kulkas dan tempat tidur. Tempat tinggal kami nyaman dan di lingkungan yang bagus untuk perkembangan Saka. Tapi, semuanya itu tidak gratis. Saya dan suami harus bekerja untuk itu.

Kerja. Kata-kata yang dulu pernah aku benci. Karena aku merasa kurang diperhatikan oleh orangtuaku, karena mereka sibuk kerja. Aku merasa mereka gak care sama aku, karena mereka harus kerja. Kerja, kerja, dan kerja. Sampai aku pernah bertekad, kalau nanti punya anak, aku ga mau kerja. Karena aku tau rasanya gaenak ditinggal kerja sama orangtua.

Itu keinginanku dulu, sewaktu aku masih muda dan berpikir semuanya akan berjalan sesuai yang kuharapkan. Tapi pada prakteknya, akupun akhirnya harus kerja. Karena sama seperti orangtuaku dulu yang ingin terbaik untukku, sekarang akupun ingin yang terbaik untuk Saka. Walaupun itu artinya aku harus meninggalkan Saka dirumah bersama susternya.

Susternya Saka yang baik dan sayang banget sama Saka. Tapi, jadi dilema buatku karena Saka jadi terlalu tergantung. Terlalu lengket. Saka terlalu sayang sama dia.

Iya, Saka sayang susternya.

Apa namanya kalo bukan sayang, ketika aku pernah mendengar dalam tidurnya, Saka mengigau “Ncuss..” – panggilan kesayangannya untuk sang suster.

Atau ketika setiap pagi, Saka akan turun kebawah dan langsung mencari Ncus dan nangis jika tidak menemukan dia. Atau yang paling “hakjleb” buatku, ketika Saka rewel karena akan masuk sekolah dan minta di sun sama Ncus biar ga nangis lagi.

*deep sigh*

Anakku menyayangi susternya. Yang seharusnya rasa sayang itu dia simpan untuk aku, mamanya. Yang sudah mengandung, melahirkan, dan jungkir balik untuk memberikannya ASI walaupun harus kembali bekerja sebagai arsitek, dengan jam kerja yang ajaib.

Okelah, aku memang tidak selalu ada untuk dia. Bahkan ketika Saka jalan untuk pertama kalinya. Aku juga tidak ada disana untuk menyaksikan, mengabadikan lewat foto, video, atau apapun itu Aku sedang bekerja dan aku melewatkannya. Banyak yang aku lewatkan, tapi aku selalu berusaha untuk “mengganti”nya disaat aku tidak bekerja.

Toh, apapun yang terjadi, sesibuk apapun aku. Mamanya Saka ya tetap Sasha, tidak ada yang berubah. Suster adalah anugerah dari Tuhan, karena Tuhan tahu aku bekerja untuk Saka, jadi Dia berikan orang yang baik dan sayang sama Saka untuk menjaganya selama aku bekerja.

Merelakan Saka mencintai susternya adalah pengorbanan besar. Tapi aku tahu, bahwa Saka ada ditangan yang benar, Saka akan aman berada didekatnya. Itu pengorbananku, caraku mencintai Saka.

Advertisements
Standard

#ceritakami Ep. 3 : Sara, Maira, dan Mika

Kalo mau pergi bareng, udah kayak rombongan sirkus. (Sara, on being a mom of two kids)

Sekarang sih gue udah bisa senyum-senyum. Udah bisa ngejalanin semuanya dengan santai. Walopun kadang masih berpikir lucu juga kali ya, kalo gue punya tangan yang banyak, kayak gurita. Jadi bisa ngelakuin banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Abis, gue pengen Maira dan Mika dapetin “porsi ibu” yang sama. Karena gue sayang dua-duanya.

Walaupun sebenernya, Mika adalah sebuah kejutan. Kejutan terindah yang pernah gue dapetin 🙂

Yang namanya kejutan memang ga pernah dikasitau duluan sama yang ngasih. Walaupun, Dia sih sebenernya udah mulai kasih ke gue tanda-tanda, dengan menstruasi yang tak kunjung datang selama 2 bulan. Tapi, gue tetep mencoba untuk berpikir positif. Namanya juga masih nyusuin, pasti siklus haid juga belum normal. Temen gue juga ada yang kayak gue gini, kadang “dapet” kadang enggak. Masih labil nih hormon kita-kita. Dan ingatan gue juga masih fresh banget, saat ngelahirin Maira. Belum terlalu lama. So, I’m sure this is all just a phase.

Akhirnya, pada suatu pagi sebelum ngantor, dengan berat hati gue keluarin juga test pack. Waktu masuk ke toilet, rasanya seperti mau ngerjain test yang sangat penting, tapi kali ini gak ada jawaban yang salah. Apapun hasilnya pasti benar dan itu adalah yang terbaik buat gue. Satu atau dua garisnya, sama-sama harus gue hadapi. Ga ada yang salah. Itu yang gue pikirin. Atau lebih tepatnya, yang coba untuk gue pikirin waktu mulai pipis diatas test pack dan menunggu tinta itu muncul.

Ah. Dua garis.

Ingat, Sara.. Tidak ada jawaban yang salah, semuanya benar.

Campur aduk rasanya. Seneng, sedih, kesel, marah, pengen nangis, nyesel, bahagia, bersyukur. Semua perasaan itu berlomba-lomba meminta perhatian gue. Gue gatau harus ngikutin perasaan yang mana. Mungkin dari semua itu, perasaan gue adalah bingung. Bingung karena gue baru aja 10 bulan jadi ibu, gue belum becus-becus amat. Masih banyak yang harus gue pelajarin, banyak yang pengen gue lakukan bareng Maira, bareng suami gue, dan gue lakukan untuk diri sendiri. Tapi, ini ditambahin satu lagi, dititipin sama Tuhan satu anak lagi. Kok, rasanya berat banget.

Hari itu gue ngantor ditemani si perasaan campur aduk itu. Walaupun, pas gue bilang ke suami, dia responnya seneng dan ngedukung banget kehamilan ini, tetep aja gue masi kepikiran. Bok, being a mom is not easy. Apalagi working mom with two kids. Oh my God, gue bisa gak ya? Sampai akhirnya suami gue bilang “Aku tau kenapa Tuhan kasih kita 2 anak, karena kamu bisa.” Denger itu, nangis bombay deh gue. Walaupun kayaknya klise, tapi itu yang jadi semangat gue buat ngejalanin ini semua.

Dan memang bener, gue bisa kok. Walaupun gak berjalan dengan sempurna, dan gak semua bisa disenangkan, tapi bisa kok. Memang ada pengorbanan disana-sini, tapi bisa.

Mungkin Maira yang masih ga bisa terima. Ketika tanggal 26 Juli 2011, ketika ia berumur 1 tahun 5 bulan dan sudah harus membagi ibunya dengan seorang lagi. Selama 9 bulan ini, Maira tahu ada yang berubah dari ibunya. Ibunya menjadi membesar dan semua orang berusaha untuk memberitahunya kalau gundukan di perut ibu itu ada bayinya. Dan akhirnya bayi kecil itu keluar juga dan dia sangat demanding. Yang sepertinya ingin mengambil alih ibunya untuk dirinya sendiri. Bayi kecil ini egois. Padahal ia juga masih belum puas main-main, dimandiin, disuapin, dikelonin sama ibunya. Maira masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa Mika adalah adiknya. Mereka berbagi gen dan darah yang sama, dari ayah ibunya.

Maira pun jatuh sakit, demam tinggi sampai 40 derajat. Sehari setelah gue dan Mika pulang dari rumah sakit. Jadi, akhirnya gue tetep harus bulak balik ke rumah sakit, padahal baru aja menghabiskan 3 malam dirumah sakit untuk melahirkan. Pheewww. This is not a good start.

Berusaha untuk menenangkan Maira yang ngamuk saat akan dipasangi infus di rumah sakit. Pulang ke rumah dan menghadapi Mika yang sedang belajar untuk menyusu dari payudara yang lecet. Duh, ini nightmare banget. Dan kata-kata suami gue “Aku tau kenapa Tuhan kasih kita 2 anak, karena kamu bisa” waktu itu, rasanya udah ga valid lagi disituasi seperti ini.

Tapi, akhirnya gue berhenti mellow. Chin up, Sara. The girls need you.

Dan akhirnya gue beneran bisa melalui semuanya. Setelah dijalanin, it’s not that bad. Gue tetep bisa balik lagi kerja, walaupun sambil kejar tayang merah ASI di kantor untuk Mika. Setiap kali gue lagi down di kantor, gue inget aja kalo ada dua orang anak perempuan, cantik-cantik, yang nungguin gue dirumah, yang sekarang masih bukan rumah mereka sendiri. Gue pengen dua anak perempuan ini, nungguin gue dirumah mereka sendiri dan di kamar mereka sendiri. Langsung jadi kuat lagi.

Ternyata, Tuhan gak lupa, selain nitipin 2 anak ke gue, Dia juga nitipin kekuatan yang 2x lipat.

Standard