#ceritakami Ep. 6 : May dan Randy

“Pulang kerumah, perut sudah kempes, tapi mana bayinya?” – May, setelah melahirkan Randy.

Satu bulan. Tepat satu bulan setelah aku menikah, aku kehilangan ayah. Ayah yang menjadikanku seperti aku yang sekarang, aku yang kuat dan kelakuannya mirip laki-laki. Bagaimana tidak, aku anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, jadi ayah selalu mengajarkanku untuk jadi perempuan yang tangguh.

Beruntung aku dibesarkan dengan didikan yang keras oleh ayah, karena ternyata keteguhan hati, dan menjadi pribadi yang tidak gampang menyerah ini, sangat aku perlukan. Karena aku adalah ibu dari Randy Rachmat , yang lahir ke dunia diumur kandungan 32 minggu (kelahiran normal biasanya di 40-41 minggu). Ya, Randy lahir prematur dengan berat 2,185 kg dan panjang 49 cm.

Sepertinya, kehilangan ayah adalah salah satu pemicu mengapa Randy lahir terlalu cepat. Lima hari setelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk mengecek kehamilan, dan ternyata hasil test pack menyatakan aku positif mengandung. Dan ketika aku coba untuk memastikan ke dokter, katanya kandunganku sudah berumur 4 minggu. Berarti selama ini, ketika aku bulak balik ke RS untuk menemani ayah di ICCU dan kadang harus menginap disana, aku sudah dalam keadaan mengandung.

Kalau saja ayah tahu, dia akan punya cucu lagi.

Ah, sudahlah. Yang penting sekarang Randy sudah lahir, dan selamat. Lemah, tapi selamat. Harus masuk ke inkubator, tapi selamat. Itu saja yang paling penting.

Setelah melahirkan, aku hanya bisa IMD (Inisiasi Menyusui Dini) sebentar saja, karena Randy harus langsung dimasukkan ke inkubator. Selama 3 hari, aku menginap di RS, sambil terus mencoba menyusui Randy. Disinilah, tantangan itu datang. Dokter mengatakan bahwa refleks mengecap pada janin baru sempurna pada umur 34 minggu, sedangkan Randy masih berumur 32 minggu, jadi butuh kesabaran untuk mengajarkannya menyusu pada payudaraku.

Padahal, bayi-bayi prematur sangat butuh perlindungan ekstra, dan hanya ASI jawabannya. Aku dan suami sepakat kalau Randy harus dapat asupan ASI, apapun yang terjadi. Akhirnya, daripada Randy harus minum susu formula, kami memutuskan untuk memperbolehkan Randy di infus untuk mendapatkan asupan nutrisi. Kami jahat? Ya mungkin ada yang berpikir begitu. Aku tahu, beberapa suster di RS juga menganggap kami jahat karena lebih memilih menginfus Randy daripada memberikannya susu formula.

Tapi, kami orangtua Randy. Kami tahu dan mau yang terbaik untuknya.

Akhirnya, hari ketiga aku pulang ke rumah. Tanpa Randy. Rumah kami bebas suara tangisan, dan bau ompol. Tidak ada keseruan begadang dan pusing mengganti popok, setelah melahirkan. Yang ada, semangat untuk memerah ASI dan kunjungan ke rumah sakit setiap hari. Rutinitas kami adalah, pagi-pagi sambil berangkat kerja, suamiku akan mengantarkan ASIP (ASI Perah) yang sudah aku kumpulkan, untuk dibawa kerumah kakak iparku yang bekerja di rumah sakit tempat Randy berada, agar ASIPku bisa diberikan pada Randy. Sekitar jam 10 pagi, aku akan naik taksi ke rumah sakit untuk bertemu Randy, mengajarkannya untuk menyusu, membacakan buku, merasakan menjadi seorang ibu. Jam 8 malam, suamiku bergabung setelah pulang kantor dan jam 10 malam kami pulang, meninggalkan Randy di dalam inkubator rumah sakit.

Seperti itu, setiap hari.

Suara tangisan bayi, tergantikan dengan isak tangisanku, hampir setiap malam. Pedih rasanya, tidak bisa memeluk bayiku kapanpun aku mau. Inikah rasanya jadi ibu? Aku mau menyusuinya sampai ia terlelap setiap malam. Terlelap dipelukan ibunya yang membaginya tempat untuk hidup selama 32 minggu, bukan di dalam kotak kaca di tempat yang asing baginya.

Tapi, kalau aku menyerah pada kesedihan ini. Berarti aku pun menyerah untuk memberikan ASI pada Randy, karena banyaknya ASI sangat tergantung mood ibu. Kalau ibu sedih, ASI pun akan susah keluar. Jadi, aku memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, dan menerima semuanya. Agar Randy dapat menerima jatah ASIP dari ibunya.

Hari itu, hari ke 13, dokter memutuskan bahwa dengan kenaikan berat badan yang signifikan, dan tanda-tanda positif lainnya, Randy sudah boleh kami bawa pulang. Lega rasanya. Angka 13 ternyata bisa menyenangkan juga 🙂

Rumah sakit membawa banyak kenangan. Bersama dengan ayah, dan melepas kepergiannya untuk bisa ketempat yang lebih indah. Dan bersama Randy, yang akan mengajarkan bahwa awal yang menakutkan, bisa memberikan akhir yang indah.

Standard

#ceritakami Ep. 5: Lala dan Nina

Ibu, kenapa matahari hanya ada satu?” tanya Nina (hampir 4 tahun), dan Lala pun mati gaya.

Semenjak Nina kecil, saya tidak pernah mengajaknya ber-baby talk. Saya membiasakan Nina untuk mendengar percakapan sehari-hari seperti yang dilakukan orang dewasa pada umumnya. Karena, menurut saya, anak-anak dari sekecil apapun sudah pintar dan bisa menyerap segala informasi yang kita berikan. Dan baby talk itu sesuatu yang tidak masuk akal, setidaknya menurut sebuah artikel yang saya baca.

Nina sudah saya ajak ngobrol dan berdiskusi sejak dini. Walaupun kadang saya tampak seperti orang gila. Bayangkan ada seorang perempuan dewasa yang menanyakan pilihan baju mana yang lebih oke untuk dipakai hari ini, pada seorang bayi berumur 4 bulan. Tampak aneh sekali kan? Tapi, memang itu yang saya lakukan bersama Nina. Walaupun pembicaraan itu tidak membuahkan hasil (Nina hanya ngulet-ngulet lucu diatas kasur, waktu saya tanya), tapi saya puas.

Teman-teman saya selalu senang dan kadang takjub jika mendapat kesempatan utk mengobrol dengan Nina sekarang. Diumurnya yang belum genap 4 tahun, Nina sudah bisa diajak berkomunikasi dengan lancar dan kadang perbendaharaan katanya menggelitik lawan bicaranya. Karena Nina senang berbahasa Indonesia yang baku. Nina memang kami biasakan untuk mendengarkan lagu anak-anak berbahasa Indonesia, menonton acara anak yang menggunakan bahasa Indonesia, dan kami carikan sekolah yang bahasa pengantarnya Indonesia juga. Jadi, tidak aneh kalau Nina bisa bertanya “Ibu, bolehkah aku makan es krim? Kumohon..”

Tapi, Nina pun tidak secepat itu bisa bicara. Sempat bikin khawatir, meskipun masih masuk batas wajar. Dokter anaknya Nina dulu mengingatkan bahwa Nina sudah harus punya 100 vocab setidaknya di usia 1 tahun dan paling tidak bisa merangkai 2 kata. Sebenarnya dokternya bilang hal ini karena ingin mengingatkan bahwa anak umur 1 tahun harus sudah makan makanan keluarga bersama dengan orang dewasa di rumahnya, supaya kemampuan mengunyahnya terasah dan berpengaruh pada kemampuan bicaranya.

Umur 1,5 tahun Nina masih terbata-bata dan masih jaka sembung kalau diajak ngomong, tapi saya tidak terlalu kuatir. Dan seperti waktu dia bayi, saya tetep mengajak dia ngobrol dan bahkan ketidaknyambungan obrolan kita saya anggap sebagai sebuah hiburan. Lucu aja kan ditanya A jawabnya M gitu, bukannya B. Nina baru benar-benar lancar bicara di usia 2 tahun dan sejak sekolah di kelas taman bermain kemampuannya meningkat pesat. Ibarat keran yang mampet tiba-tiba jadi lancar. Kadang masih ada nggak nyambungnya sih, tapi dia sudah bisa komentar panjang atas suatu hal. Dan seperti anak-anak lain, Nina juga suka nanya melulu, persis kayak tamu. Hehehe.

Saya sangat menikmati momen berdua di mobil dengan Nina. Tanpa si mbak atau ayahnya. Dan tentunya karena di mobil tanpa ada suara tv atau mainan yang mendistraksi Nina. Kami berdua fokus. Nina menanyakan kenapa kita harus naik ke jalan layang dan tidak lewat jalan bawah. Saya jawab semestinya. Saat di mobil ini juga momen yang saya manfaatkan untuk benar-benar mendengarkan Nina, karena saya pun kalau di rumah kadang mendengar dan menjawab dia kadang selewatan karena saya sambi mengerjakan hal lain atau sambil sibuk dengan gadget.

Saya belajar bahwa anak-anak adalah diri kita sendiri dalam bentuk yang lebih mungil, lebih jujur, dan lebih cepat menyerap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Maka dari itu, jangan menganggap mereka anak kecil. Mereka adalah teman kita. Teman yang memiliki sebagian DNA kita. Teman yang akan selalu ada untuk kita ajak ngobrol dan berdiskusi apapun. Sampai suatu hari mereka akan punya teman sendiri untuk diajak berbagi DNA.

Standard