#ceritakami Ep. 7: Yuki dan Kobe

Ada satu periode dimana gue dijulukin Raduba alias Ratu Dugem Bandung” Yuki (36)

Apapun yang gue lakukan, semuanya harus total. Gak pernah mau setengah-setengah. Negatif ataupun positif, sama-sama harus dilakukan sebaik mungkin. (Bok, emang ada ya hal negatif yang baik? Hehehe)

Setelah lulus dari Arsitektur Trisakti, gue bekerja di bidang-bidang yang gak arsitek banget. Kalo gue kuliah dengan penuh pengorbanan karena duit kuliahnya pas-pas an, gue ngerasa kalo bisa ngebayar “ketinggalan” itu pas kerja. Di umur yang masih kepala 2, dan dapet tanggung jawab mengelola duit hasil keringat sendiri yang lumayan banget jumlahnya, gue pun jatuh ke lobang hedonisme yang menguras uang, tenaga, pikiran dan keperawanan (oopss)..

But that’s true. That’s the real life, like it or not.

Gue hanya satu dari kumpulan manusia-manusia di ibukota atau kota-kota besar di Indonesia yang hidup dengan biaya lifestyle yang kalau dihitung-hitung jauh melebihi penghasilan sebenarnya. Gue adalah salah satu dari anak muda Indonesia yang mengisi hari-harinya dengan kerja gila-gilaan, dan ditutup dengan party gila-gilaan. Bukan cuma weekend atau jumat malem aja, tapi hampir setiap hari.

Junk food. Rokok. Alkohol. Weed. Clubbing. Wine. Sex.

Tapi, gue bisa jaga diri. Gue gak hamil sebelum nikah. Gak OD. Gak ketergantungan sama rokok, obat-obatan atau alkohol. Gak pernah sakit parah. Paling, yang sakit dan perlu di infus terus-terusan adalah keuangan gue. Karena waktu itu gue sampe punya 12 kartu kredit dan sempet punya sisa utang 30 juta (shocking, huh?!). Ya, banyak penyesalan, tapi it’s all good.

Gue membayar semuanya sekarang. Karena gue ga sendiri lagi.

Hidup gue bukan untuk gue doang. Hidup gue buat 2 laki-laki ini. Suami dan anak.

Karena gue tipe orangnya serius sama sesuatu dan selalu ingin perfek, jadi waktu tau kalo hamil, gue mati-matian gali info tentang nutrisi dan ASI. Setelah tau detail tentang ASI, usaha banget gimana caranya supaya ASI berkualitas dan menjaga asupan makanan. Udah pasti mengkonsumsi semua yg fresh ( sayuran, buah dan lauk ) dan gak lagi konsumsi makanan instan / pabrikan / kalengan / botolan / pengawet, sampe hari ini. Mulai ngurangin gula dan garam waktu makan, dan tertarik buat ngejalanin food combining. Mendewakan buah-buahan segar, air mineral dan jus segar. Kalau kopi masih susah sih, tapi dibatasin 1 gelas aja per hari.

Dan kalau dihitung-hitung, udah 2 tahun lebih gue ga makan mie instant! (How cool is that?!)

Sekarang, tiap jumat malam? Gue tetap setia kelonin si laki-laki kecil dan menolak diajak ke resto se-fancy apapun dan party se-hip apapun. Sampe temen-temen seperjuangan hedonisme jaman dulu suka sebel karena gue jadi cupu, jadi ibu-ibu. Biarin deh, yang penting gue ibu-ibu yang bahagia 🙂

Gue dan si laki-laki besar adalah pencinta konser banget banget banget. Setelah ada laki-laki kecil? Ya tetep ngonser lah, dengan membawa printilan si laki-laki kecil biar tetep nyaman selama nonton konser. Orang lain ngeliatin dan nge judge? Bodo amat! Yang penting, gue bisa menikmati konser bersama 2 laki-laki ini. Pilihan konsernya juga selektif, so far kita bertiga pernah ke Java Jazz, konsernya David Foster dan terakhir Simply Red. Pernah nyobain ngonser berdua doang tanpa bawa anak, yang ada nyeselnya sampe sekarang 😦

Yang paling gue syukuri adalah, gue mulai kenal reksadana dan financial planning. Dan sekarang, gue cuma punya 1 kartu kredit saja.

Jadi, kata siapa orang gak bisa berubah? Yang ada adalah, orang yang gak mau berubah.

Dan gak pernah ada kata terlambat.

Oh my God, klise banget kayaknya ya? Tapi, memang bener kok. Gue baru berubah ketika umur gue udah kepala 3. Siapa yang berani bilang gue terlambat? Sini, kalo berani bilang di depan muka gue!

Gue ga takut, terlambat berubah. Yang gue takut adalah gak mau berubah.

Gue gatau apa jadinya, kalo gue gak ketemu si laki-laki besar, dan membuat bersama si laki-laki kecil ini. Mungkin hidup gue tetep bahagia sih, tapi kebahagiaan gue gak sederhana, kebahagiaan gue pasti mahal.

Sekarang, kebahagiaan gue gak perlu dibeli pake kartu kredit.

Kebahagiaan gue gratis, hanya butuh berada di tengah dua laki-laki ini.

Standard