Menikah itu..

Ketika tidak lagi harus berpisah di depan rumah.

Ketika tidak ada kata “Sampai jumpa” atau “Aku jemput lagi ya besok”.

Ketika kata “rumah” diikuti dengan “kita” bukan “-mu” atau “-ku”.

Ketika jari manis menjadi berbekas, karena cincin yang terlalu ketat.

Ketika tempat tidur single digantikan oleh king size.

Ketika harus berbagi lemari dan rak sepatu.

Ketika make up berganti masker dan krim malam.

Ketika mandi berdua adalah untuk menghemat waktu bukan penambah nafsu.

Ketika tidak ada lagi pilihan “Aku pulang dulu ya” pada waktu berselisih paham.

Ketika tarik-tarikan selimut adalah ritual setiap malam.

Ketika suara dengkuran lirih membuatmu lega karena kau tau dia ada disampingmu.

Ketika harus berbagi jatah memegang remote tv.

Ketika hal-hal kecil yang dilakukannya bisa membuatmu gila.

Ketika hal-hal kecil yang kau lakukan bisa membuatnya gila.

Ketika hal-hal kecil yang membuat gila itulah yang paling kau rindukan ketika tidak bersama.

Standard

#ceritakami Ep. 8: Monik dan Rory

Seperti ada tulisan TANGGUNG JAWAB yang di bold dan underline di wajahnya” Monik setiap menatap Rory, anaknya.

Duh, aku benci banget tanggung jawab. Mungkin karena aku anak bungsu, anak perempuan satu-satunya, dimanja dan tidak pernah harus bertanggung jawab untuk sesuatu yang besar. Kerja kantoran hanya bertahan satu tahun. Itupun di kantor tetep jadi “anak bawang”. Dikasi tugas yang ga terlalu berat, sering dibantuin juga sama senior. Sepertinya seluruh dunia alam raya bekerjasama untuk membuatku tidak terbiasa bertanggung jawab.

Kebalikan dengan suamiku. Saking tanggung jawabnya (apalagi sama istri sendiri), dia pun sering membantu aku kalau ada masalah, selalu ikut mencarikan solusi, selalu tidak tega kalau aku harus mengurus masalah sendiri. Tuh kan, semuanya berperan untuk membuat aku gak suka sama tanggung jawab.

Hehehhe.. Dasar, sukanya mencari pembenaran. Ini contoh lari dari tanggung jawab juga ya ;p

Makanya ketika Rory lahir, aku baru tersadar, “Shit! This is A LOT of responsibilities! And I’m the one whose responsible for her well-being. I’m the one who has to keep her alive. I am her MOTHER.

Kadang suka ngerasa nyerah.

Mendingan disuruh ngerjain kerjaan kantoran deh, miting sampe tengah malem dan dijutekin klien daripada harus ngadepin anak umur 1 tahun yang lagi susah makan atau nangis meraung-raung di tempat umum. Gak sabaran banget deh. Bukannya jadi MOTHER malah jadi MONSTER.

This is not what I have in mind. Aku pikir punya anak akan menyenangkan. Akan ada “mainan” yang seru dan lucu. Tapi ternyata aku yang dipermainkan. Aku yang dikerjain. Waktu istirahatku adalah saat dia tidur. Waktuku makan adalah saat dia bermain. Duniaku berputar mengelilingi dia. Aku adalah planet dan dia mataharinya. Dia yang mengendalikan hidupku.

Tapi, aku ibu nya. Ini tugasku. Ini kenapa Tuhan menciptakanku dengan vagina, rahim, dan payudara. Ini kenapa Tuhan memperbolehkan sel telurku dibuahi oleh sperma suamiku. Ini jalan hidupku. Aku yang mau dia hadir dalam hidupku. Aku yang mau dia mengisi dan tumbuh dalam rahimku untuk akhirnya menjadi tanggung jawab seumur hidupku.

Seumur hidup.

Dan seumur hidup juga aku diberi kesempatan untuk menyaksikan ciptaan Tuhan yang paling mulia, yang punya akal budi, untuk bertumbuh. Mengalahkan kecantikan kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Mengalahkan kecerdasan seekor lumba-lumba yang dilatih untuk mengikuti trik-trik pelatihnya. Mengalahkan rasa sayang bayi orangutan pada ibu asuhnya.

Seumur hidup aku akan belajar untuk bertanggung jawab, pada sesuatu yang sudah aku mulai. Pada sesuatu yang sudah aku sangat inginkan. Pada sesuatu yang tidak terbeli dan tergantikan. Pada anakku.

Standard