Terima kasih Bandung..

Terima kasih Bandung,

Untuk rumah yang masih deket sama sawah, airnya dingin dan kalau malam bisa lihat city light dari balkon rumah; daerah Sindanglaya (eh ini Bandung coret ya?).

Untuk tempatku pertama menuntut ilmu walaupun hanya sempat merasakan kelas 6 saja; SD Santo Agustinus.

Untuk sekolah katolik yang sangat ketat peraturannya dan bangunannya angker peninggalan Belanda tapi sayangnya sudah berganti nama; SMP Providentia.

Untuk sekolah negeri tempatku pertama jatuh cinta dan membuang waktuku untuk hal-hal yang tidak berguna dengannya (curcol); SMA Negri 2.

Untuk kampus yang besar dan megah uang per-SKS nya juga tidak murah tapi miskin tempat parkir; Universitas Parahyangan.

Untuk tempat kami datang berbondong-bondong untuk berfoto bersama satu kelas (kadang sampe pake kostum aneh-aneh) atau foto box yang dulu happening banget itu; Jonas Photo.

Untuk tempat les bahasa Inggris yang paling keren jamanku sekolah dulu dan tempat ngeceng paling keren; LIA Dago.

Untuk tempat bimbel yang lebih sering aku dititipin absen doang dan memilih jalan-jalan sama temen SMAku; Sony Sugema College (masih ada gak sih skrg?).

Untuk tempat les bahasa Jepang, tempat semuanya berawal, tempatku bertemu dengannya, aku masih ingat tahi lalat dibawah mata kanannya, deg-deg an ketika temanku menyebutkan namanya dan kulihat mata sipitnya; JLCC jalan Sabang.

Untuk mall generik tempat nongkrong, nonton, dan tempatku berapa kali membubuhkan tindikan di telinga bersama teman SMA; Bandung Indah Plaza.

Untuk tempat nyari kaset bekas yang udah langka di akang-akang indies yang jualan di emperan; di depan BIP.

Untuk bioskop yang jauh dari keramaian, tempat membawa nonton selingkuhan, sebelum nonton makan pizza hut dulu, sekarang sudah almarhum belum tahu akan jadi apaan; Regent.

Untuk pelopor mall yang dulu paling gaul sebelum ada Ciwalk atau PVJ saingannya cuma BIP tapi sekarang namanya sudah diganti jadi milik salah satu stasiun TV; Bandung Super Mall.

Untuk radio anak muda yang sempat berkibar namanya, tempat pertama menyapa pendengarku yang kantornya nun jauh di dago atas sana; Paramuda.

Untuk kamar kos miliknya tempat kami pertama bercint..eh.. maksudnya bercina, dia ngajarin aku caranya jadi orang cina hihi; di Bukit Dago Utara.

Untuk hotel nan cantik tempat aku dan dia menikah; The Kartipah.

Untuk warung soto betawi yang enak sekali yang adanya hanya sore hari; soto Kanayakan kami menyebutnya.

Untuk tempat krimbat, massage, dan refleksi favorit kami; Salon Swarga.

Untuk minuman yang seger banget tapi kalau hujan bingung karena ga ada tudungnya, Sop Buah belakang gedung sate.

Untuk bakso malang paling enak yang pernah kami temui, dan ga afdol kalau ke Bandung dan ga mampir kesitu; Mandeep.

Untuk steak murmer dari jaman masih butut tempatnya sampe sekarang jadi Cafe yang keren; Et Cetera.

Untuk tempat janjian ngumpul sama temen-temen yang paling gampang; Superindo Dago.

Untuk tempat beli kaset dan CD yang sekarang udah tutup tempatnya; Aquarius Dago.

Untuk factory outlet yang jadi kesayanganku; Anak Kecil, Rumah Mode dan Grande.

Untuk tempat aku dan dia menyepi dan lari dari anak kami; Hummingbird.

Untuk tempat kesayangan kami berdua, tempat pacaran, ngobrol, nulis, tempat dimana kami merasa paling bahagia dan merasa semuanya akan baik-baik saja; Selasar Sunaryo.

Untuk semua tempat dimana aku merasa dicintai, mencintai, patah hati, bahagia, setengah gila, kehilangan, mendapatkan, kekurangan, berkelimpahan.

Untuk semua cerita dalam hidupku yang terjadi di kotamu, Bandungku.

Untuk semua orang yang pertama kukenal di kotamu, yang sampai kini kami masih bertemu.

Untuk mempertemukanku dengan satu orang paling penting dalam hidupku, yang sekarang menjadi teman tidurku, dan bersama kami membuat manusia baru.

Terima kasih Bandung, untuk semua itu.

Sekarang di Kartu Tanda Pendudukku, sudah bukan tertera nama kotamu. Tapi yang aku tahu, dalam hati, aku akan selalu menjadi eneng-eneng Bandung, urang Sunda, yang doyan banget lumpia basah dan batagor kuah.

🙂

Standard

Karma yang posesif.

Apakah sifat posesif itu genetik? Menular? Atau mungkin karma?

Kalau iya, berarti aku bertanggung jawab atas sifat posesif anakku.

Yeap. I’m the one to blame. It’s all my fault.

And it’s a little bit of everthing, I think. Genetik. Ketularan. And most of all it’s KARMA.

Yes, i believe in that 5 letter-word.

Dulu, aku posesif-in seorang laki-laki. Saking aku cinta sama dia. Harus tau dia lagi apa, sama siapa, pulang jam berapa, lagi seneng atau sedih. Aku harus tahu hidupnya. Aku harus hidup di dalam hidupnya. Hidupnya harus menjadi milikku.

Udah kayak orang gila deh, aku posesif-in dia terus setiap hari. Tapi anehnya, dia mau aja stuck sama aku sampe sepuluh tahun dari pacaran sampe sekarang. Bikin anak pulak, bareng aku.

Hmmm.. Jadi bertanya-tanya, yang gila siapa ya sebenarnya?

Nah, sifat posesif itu lahir kembali dalam wujud seorang anak perempuan yang tidak pernah membiarkan ibunya untuk hilang dari pandangannya. Seorang anak perempuan yang kalau ibunya sedang di kamar mandi, dia akan memukul-mukul pintunya agar si ibu mau cepat keluar. Seorang anak perempuan yang selalu mengatakan “Sama mama aja” kalau ingin melakukan apapun. Seorang anak perempuan yang jika ayahnya sedang memeluk atau mencium ibunya, dia akan lari dan memeluk ibunya sambil menatap dengan sinis pada ayahnya dan berkata “INI PUNYA AKU!”

Uh-huh. It’s THAT bad.

Ini toh rasanya diposesifin seseorang, Ini toh rasanya ditarik terus masuk kedalam hidup orang lain dan jadi ga punya kehidupan. Ini toh rasanya jadi lelaki yang aku posesif-in dulu?

Ah. I owe you an apology, my darling husband.

Tapi, kalau kamu bisa bertahan sama aku sampe sekarang, it’s going to be a piece of cake for me to survive from this cute little possesive monster. Aku hanya harus bersabar sampai akhirnya dia tahu ada orang lain yang lebih seru untuk di-posesif-in. In the mean time, aku nikmatin dulu deh, dipeluk terus, dicium terus, dicariin terus, dilarang pergi terus sama dia. Nanti tidak akan berulang lagi. Aku tahu aku akan merindukan ini.

*possesive (adj): manifesting possesion or the desire to own or dominate [Merriam-Webster]

Standard

Aku dan alien ini.

Manusia kecil ini seperti makhluk asing.

Alien yang turun dari pesawat luar angkasanya, tidak memakai baju, penuh lendir, dan tidak datang dengan damai. Dia datang untuk mengacaukan hidupku, mengacaukan jadwal tidurku, jadwal mainku, jadwal bercinta dan bermesraan bersama suamiku, jadwal mengejar cita-citaku. Dia mengacaukan semuanya, alien ini.

Dia tidak bisa berbicara dengan bahasaku. Mungkin di planetnya dulu, mereka berkomunikasi dengan cara menangis. Ada level tangisan yang berbeda untuk tiap-tiap perasaan yang berbeda juga. Ada tarikan tangis yang melengking dan memekakkan telinga atau tangisan sendu yang membuat pilu. Aku tak mengerti bahasanya.

Keras kepala, alien ini. Harus dituruti kemauannya. Tidak mengenal kata tidak, atau nanti, atau sabar, atau tunggu. Ah, bodoh juga jika aku berharap dia mengerti kata-kataku. Mungkin aku harus membalasnya dengan menangis juga.

Susah dimandiin alien ini. Tidak suka air sepertinya. Maunya dipeluk saja. Diberikan kesukaannya, yaitu payudara. Akhirnya aku benar-benar baru tahu kenapa Tuhan menciptakan dua gundukan berputing yang harus ditutupi BH ini. Untuk menenangkan alien ini.

Sangat berguna, Tuhan. Hebat ciptaan-Mu ini.

Lama-lama dia akan jarang menangis. Dia mulai mempelajari kebiasaanku. Hati-hati, dia cepat sekali menirukan apa saja yang kita ajarkan, dia akan menyerap semuanya. Pintar sekali, alien ini.

Kadang, aku sudah tidak menganggapnya alien lagi. Dia sangat baik padaku, tersenyum dan tertawa jika aku mengajaknya berbicara atau menyanyikannya lagu. Dia mulai suka suaraku, mencari jika aku tidak ada. Mungkin dia belum terlalu kenal mukaku, tapi bauku sudah dikenalnya dari dulu. Lengket sekali dalam ingatannya.

Membuatku kangen, alien ini. Ketika dia sudah bisa merangkak dan mulai berdiri sendiri. Tak ingin kugendong lagi. Payudaraku kalah pamor dengan mainan dan bunyi-bunyian dari TV. Dia mempelajari semuanya. Jangan lupakan, alien ini pintar sekali.

Makin lama, alien ini makin mirip aku. Apalagi kalau tertawa. Tapi ini bukan hasil pengamatanku. Kata suamiku begitu. Kalau aku yang melihatnya setiap hari, tidak pernah tahu apa kemiripanku. Yang aku tahu, alien ini bukan alien lagi yang aku kenal dulu. Sepertinya sudah lupa dengan pesawat luar angkasanya dan mulai merasa nyaman di tempat barunya, di duniaku.

Dia berubah.
Dia berkembang.
Dia bertumbuh.
Makin banyak yang bisa dia tirukan.
Makin mirip manusia.

Tapi setelah kupikir lagi, tangisan adalah bahasaku juga. Bahasaku untuk berbicara pada hatiku. Bahasa yang membasahi pipiku. Bahasa yang mengangkat semua beban pikiranku. Termasuk beban ketika mendengar alien ini menangis terus.

Bahasa yang akhirnya mengingatkan bahwa aku dulu, juga seperti alien ini.

Standard