Menjadi “Aku”

Dulu, aku benci sekali pada orang yang mengenaliku dengan “Meira yang istrinya Ernest”.

Ini namanya melabeli orang lain. Ini tidak adil.

Aku ini Meira (titik)

Aku ini manusia utuh yang punya identitasku sendiri. Aku tidak perlu menebeng pada identitas siapa-siapa. Aku ya aku.

Aku berusaha jadi Meira yang bukan HANYA istrinya Ernest.

Aku berusaha jadi Meira yang siaran. Meira yang ngemsi. Meira yang selain istri.

Lama-lama aku menjadi Meira yang sibuk mencari jati diri.

Iya, aku terlambat mencari jati diri. Baru setelah menikah dan dilabeli. Tidak terpikir sebelumnya bahwa jati diri itu
perlu dicari. Setelah menikah, baru tergugah. Siapa aku ini sebenarnya. (Sinetron banget ya?)

Tapi, kamu juga pasti pernah mengalaminya, aku yakin.

Bertanya pada diri sendiri, siapa sebenarnya dirimu ini?

Apakah jalan hidup yang kau tempuh sudah sesuai dengan apa yang kau inginkan?

Apakah pilihan-pilihan hidup yang kau ambil benar-benar yang selama ini kau impikan?

Apakah kamu bahagia dengan apa yang kau lihat setiap hari didalam cermin?

Aku, si Meira istrinya Ernest, merasa belum puas. Akupun terus mencari jati diri. Aku ingin menjadi seseorang. Yang bukan sekedar, siapanya seseorang.

Sampai akhirnya, waktu berlalu dan aku sudah tidak berlabel “Istrinya Ernest” lagi.

Lega? TIdak juga.

Karena labelnya tidak hilang, hanya berubah jadi “Meira Mamanya Sky”

OUCH!

Apa-apaan ini?

Apakah aku tidak boleh menjadi diriku sendiri. Aku Meira saja. Tanpa harus jadi “apa-nya siapa”. Sesusah itu kah untuk jadi diriku sendiri? Sesusah itukah untuk punya nama tanpa tambahan di belakang? Setidak penting itu kah, aku yang sebagai Meira saja?

APAKAH AKU MEMANG TIDAK PUNYA IDENTITAS PRIBADI?

APAKAH AKU AKAN TERUS ADA DALAM BAYANG-BAYANG SUAMI DAN ANAKKU?

…..

Tapi, akhirnya aku berpikir. Salahnya dimana?

Aku MEMANG istrinya Ernest dan mamanya Sky.

SALAHNYA DIMANA?

Kenapa aku harus malu jadi istri dan ibu? Harusnya aku bangga, orang mengenal suamiku. Dan mereka juga mengakui Sky sebagai anakku. Harusnya aku bangga, suamiku memilih aku menjadi istrinya, dan Sky juga dikasih sama Tuhan ke aku. Harusnya aku bangga, aku adalah ibu rumah tangga, karena tugasnya mulia.

Akhirnya, aku berdamai dengan semuanya.

Aku melihat lagi apa yang aku lakukan selama ini. Aku sudah menjadi tempat suamiku berkeluh kesah. Aku sudah menjadi orang pertama yang Ia ajak diskusi dan tempat meminta pendapat. Aku sudah ikut mendorong dia untuk menjadi lebih baik dari dia yang dulu aku kenal. Aku sudah menjadi pondasi yang kuat untuk Ia dapat berdiri dan naik lebih tinggi lagi.

Dan untuk Sky, melihat Ia telah tumbuh seperti ini, dari mulai bayi berwarna ungu yang kukeluarkan setelah kontraksi, menjadi anak ceria dan sayang papa mamanya; aku tidak bisa minta hidup yang lebih sempurna dari ini.

Aku tahu, mungkin menurutmu ini berlebihan. Aku terlalu membanggakan hidupku sendiri. Bagi kamu mungkin seperti itu. Kenapa?

Karena ini bukan hidupmu. Ini hidupku. Ini kebahagiaanku. Kamu tidak perlu mengerti dan seratus persen setuju.

Tugasmu adalah menemukan jati dirimu. Siapakah kamu sebenarnya? Mau dijadikan seperti apa hidupmu ini? Peran apa yang kau ingin ambil dalam hidupmu? Apakah kamu akan mencintai hidupmu sekarang atau masih merasa bisa berbuat lebih dari yang ada? Keputusannya ada pada dirimu sendiri. Kamu yang menentukan. Bukan orangtua, sahabat, suami, pacar, mertua, anak, menantu. Bukan mereka. Tapi kamu sendiri.

Aku memutuskan, bahwa aku mencintai hidupku. Aku, Meira yang istrinya Ernest dan mamanya Sky, mencintai hidupku dan akan TERUS mencintai hidupku karena aku sekarang sudah dikelilingi oleh orang-orang paling penting bagiku.

(Jakarta 25 Okt 2012)

Standard

Setengah-mu.

Seperti mata kanan yang setengah buta tanpa mata kiri.
Seperti kaki kanan yang setengah lumpuh tanpa kaki kiri.
Seperti tangan kanan yang setengah buntung tanpa tangan kiri.
Seharusnya seperti itulah kamu dan pasanganmu.

Seharusnya kamu merasa tidak berfungsi tanpa dia.
Hidupmu hanya setengah.
Dan kamu harus mencari setengahnya lagi.

Aku tahu kamu bisa menjaga diri tanpa pasanganmu, tapi bukan itu.
Fungsimu akan berkurang, jika pasanganmu hilang.
Hidupmu menjadi hampa tanpa dia.

Ada bagian yang tidak bisa kau ganti, seperti tongkat yang menggantikan kaki.
Tidak akan pernah bisa sama lagi.
Apakah kau pernah merasakannya pada seorang lelaki?

Lelaki yang melengkapi harimu.
Lelaki yang akan memberikan bagian terenak dari sebuah potongan ayam.
Lelaki yang tahu kopi favoritmu.
Lelaki yang memarahimu karena sering putus asa.
Lelaki yang tidak perlu diminta akan mengulurkan tangannya memberikan pijatan.
Lelaki yang akan menggambarkan peta di secarik kertas agar kamu tidak tersesat mencari jalan.
Lelaki yang menyelimutimu ketika kamu lelap tertidur.
Lelaki yang mengingatkan jika kamu sudah terlalu banyak belanja.
Lelaki yang senang mendengarkan suaramu dan memperhatikan matamu ketika sedang semangat bercerita.
Lelaki yang melengkapi semua inderamu.

Lelaki yang ingin kau bagi segalanya.
Lelaki yang mau berbagi denganmu.

Cari dan temukan lelakimu. Pasanganmu.
Karena Ia juga sedang menunggu,mendapatkan mata, kaki, dan tangan untuk melengkapi hidupnya yang masih setengah itu.

Standard