Let her go, to let her grow

I have to let her go, to let her grow.

Sudah tiga tahun ini kita hidup bersama.
Makan, tidur, dan kadang mandi berdua.
Hidupku adalah miliknya.
Apapun yang kulakukan harus berdasarkan “Nanti Sky gimana”.
Kalau mau pergi ke salon sebentar saja.
Atau hanya ingin belanja.
Akan selalu dihantui oleh “Nanti Sky gimana”.
Aku tidak tahu cara melepaskan dia.
Kalau begini caranya,
Bagaimana dia akan siap menghadapi dunia?
Direbut mainannya saja pasti akan menangis dan memanggil “Mama..!”
Apakah aku akan tega?
Melepas dia bersama anak-anak lainnya?
Yang sudah lebih mandiri dan bisa menjaga diri mereka.
Tapi, aku tidak mungkin menahan dia.
Dia berhak untuk menjadi dewasa.
Berhak untuk keluar dari bayang-bayang Ibunya.
Tapi bagaimana jika dia tidak bisa?
Bagaimana jika dia terluka?
Aku akan menyalahkan diriku karena tidak bisa menjaganya.
Ini tugasku sebagai orang yang melahirkan dia.
Karena Ibu adalah penjaga.
Seperti satpam di rumah tetangga.
Tapi, ini adalah hidupnya.
Siapakah aku yang berani mengatur semuanya.
Berarti aku tidak percaya kepada DIA.
Yang maha melihat dan menjaga semuanya.
Apapun yang aku lakukan tidak akan bisa tanpa persetujuan-NYA.
Jadi, aku akan tetap mencoba menjaga.
Tapi menyerahkan semua.
Karena DIA yang memberikan kesempatan aku bisa dipanggil Mama.
Siapakah aku berani membantah-NYA?
Jadi, dengan ini aku mencoba melepaskanmu, Sky Tierra Solana.
Karena jadi mandiri itu tidak ada jeleknya.
Aku akan selalu ada.
Jika kamu teriak “Mama..”
Tapi, aku akan melihat dari jauh saja.
Karena aku tahu kamu pasti akan bisa menyelesaikannya.
Aku percaya kepadamu, Sky Tierra Solana.
Anakku satu-satunya.

Advertisements
Standard