Belum waktunya

Saya memulai tahun 2013 dengan mimpi.

Mimpi bahwa tahun ini akan membawa saya menjadi seseorang yang lebih dicintai. Bukan oleh orang terdekat, tapi oleh diri sendiri. Karena yang paling menentang diri saya adalah saya sendiri.

Merasa apa yang saya lakukan tidak pernah cukup baik untuk dapat dibanggakan. Apa yang saya lakukan tidak cukup membuat saya menjadi manusia yang lebih dihargai. Apapun yang saya lakukan tidak pernah cukup.

Buat kamu yang tidak mengerti, ya memang ini semua proses yang harus saya lewati sendiri. Tidak perlu kamu mengerti. Karena pasti akan ada hal-hal dalam dirimu yang akan susah untuk dimengerti oleh orang lain.

Maka saya membuat janji pada diri sendiri, ditahun yang akan membawa saya ke umur 30 ini, ketika angka dua berubah menjadi tiga ini, saya akan membuat buku. Membukukan tulisan-tulisan yang sudah pernah saya taruh di blog saya ini, dan membuat tulisan-tulisan baru.

Tidak apa-apa untuk mempunyai mimpi, bukan?

Mimpi adalah milik semua orang. Selama kamu masih bisa memiliki pikiran berarti kamu bisa bermimpi. Malah harus bermimpi.

Semua orang bisa punya mimpi, tapi tidak semua orang bisa berhasil mewujudkan mimpinya. Mimpi yang sudah dirancang dan kadang dibawa sampai kedalam mimpi malam hari.

Memutuskan mempunyai sebuah mimpi ternyata lebih gampang daripada merealisasikannya.

Dan saya hari ini dengan lapang dada ingin mengakui bahwa saya belum mampu merealisasikan mimpi saya.

Ya, saya menyerah.

Ya, saya akan menaruh mimpi saya disebuah lemari tertutup di dalam pikiran saya dan menguncinya dulu sampai waktu yang tidak ditentukan.

Jadi, saya memutuskan untuk tidak membukukan tulisan-tulisan saya.

Untuk sebuah keputusan harus ada alasan.

Alasan saya adalah:

Mimpi untuk membuat buku telah membuat saya membenci proses menulis.

Ketika saya memulai menulis di blog ini, saya merasa ada berbagai beban yang terangkat. Baik karena proses dan hasilnya. Terlebih karena kadang saya bisa menyentuh sebuah kotak kecil dalam diri seseorang yang tidak saya kenal sama sekali, karena orang itu membaca tulisan saya dan merasa mengalami hal yang sama.

Mungkin hal ini salah, karena seharusnya menulis tidak selalu harus mendapat feedback langsung dari pembacanya seperti era blogging seperti sekarang, tapi saya merasa sangat nyaman dengan kondisi ini. Karena dengan mendapat komentar atau pendapat orangn saya merasa lebih berguna.

Saya merasa inilah tugas saya, menulis apa yang saya rasakan agar orang lain juga menyadari bahwa mereka tidak sendiri.

Jadi, sebelum ada mimpi membuat buku, menulis adalah proses yang menyenangkan. Dan membuat kata-kata mengalir lancar kedalam sebuah paragraf bukan menjadi keharusan, tapi pilihan.

Dengan mental seperti ini, saya rasa saya belum cukup pantas untuk membuat sebuah buku. Perjalanan menulis saya baru sepanjang sapu lidi. Nanti, kalau semua lidi itu sudah bisa saya taruh satu persatu di tanah membentuk garis yang panjang, mungkin saya akan membuat buku J

Saya hanya ingin belajar dan belajar. Karena proses menulis yang saya lakukan juga masih sangat pendek. Dan setiap membaca sebuah buku, saya diingatkan betapa sebuah buku adalah sebuah perencanaan, perhitungan, dan riset yang matang. Dan saya merasa belum memiliki dan menjalani itu semua.

Apakah dengan begini saya makin tidak menghargai diri saya karena sudah menyerah?

Ya, mungkin ada bagian dari diri saya yang malu karena telah menyerah, tapi bagian diri yang lain merasa bangga karena saya mengetahui kapasitas diri saya sendiri dan mau mengakui kekurangan saya.

Jadi, mulai saat ini, proses belajar saya dimulai, saya akan mulai membaca dan membaca dan membaca lalu menulis dan menulis dan menulis lagi di blog ini, untuk kepentingan rekreasi pikiran saya dan untuk makin mengenal diri saya sendiri. Ini janji saya.

Komentar dari kamu yang membaca tulisan saya nanti adalah buah ceri yang ada di kue tart-nya.

Terakhir, terimakasih banyak untuk teman-teman atas segala dukungan kalian pada saat saya menyatakan akan membuat buku. Terima kasih karena sudah mengganggap saya pantas. Semoga suatu saat nanti, teman-teman akan bisa membaca dan menaruh buku saya di rak buku teman-teman.

Suatu saat nanti.

Standard