Lelaki yang kusebut sebagai Suami

Lelaki yang kusebut sebagai Suami

Lelaki ini sudah kusebut sebagai Suami selama enam tahun. Enam tahun yang membuatku makin mencintai dan mencintai lelaki ini. Karena selama enam tahun ini, dia telah membuktikan bahwa dia bukan hanya seorang suami tapi lebih lagi.

Lelaki yang kusebut sebagai Teman dan Sahabat.

Mungkin ini kenapa kadang aku menyadari bahwa aku tidak memiliki banyak teman atau sahabat, tapi merasa baik-baik saja. Karena aku memiliki dia. Tidak ada pembicaraan setingkat pertemanan atau persahabatan yang tidak bisa aku ceritakan ke dia.

Aku bisa meceritakan tentang apapun padanya dan dia mendengarkan. Aku lebih merasa nyaman berteman dengannya karena aku tahu teman yang satu ini tidak akan berbasa-basi. Aku tahu teman yang ini akan benar-benar bilang padaku jika kentutku bau atau sepertinya aku baju yang kupakai tidak cocok untukku.

Teman yang satu ini akan langsung tertawa jika aku melakukan kekonyolan atau kebodohan didepannya, bukannya hanya diam tapi nanti akan diam-diam meceritakan kekonyolanku pada teman yang lain.

Teman yang tetap setia walaupun setiap pertanyaan yang dia tanyakan akan kubalas dengan pertanyaan lagi. Hampir setiap kali. Tapi dia tetap sabar. Sampai saat ini 🙂

Teman yang satu ini tidak akan bilang “Gapapa kok” kalau aku melakukan kesalahan, tapi lalu mendendam. Teman yang satu ini akan bilang bahwa aku salah dan apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya.

Teman yang satu ini tahu kapan aku butuh disemangati dan kapan aku butuh “dipecut” agar aku bisa lebih semangat.

Lelaki yang kusebut sebagai Kakak.

Walaupun umurnya hanya beda satu tahun denganku tapi dia memang sudah jauh lebih dewasa.

Kadang, aku benci dengan caranya menularkan kedewasaannya padaku. Karena kita biasanya sedang bertengkar pada waktu dia melakukan itu. Ya, dia kadang memarahiku dan aku bersyukur untuk itu. Karena beberapa orang (seperti aku) terlalu keras hatinya untuk bisa dan mau berubah. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan teguran keras.

Apakah aku membencinya saat dia melakukan itu? Oh, sangat. Aku merasa bahwa dia bukan suami dan temanku. Aku merasa bahwa dia tidak mencintaiku lagi karena dia sudah galak padaku. Saat itu, aku kadang berharap tidak sedang berada dihadapannya.

Tapi dia tahu, bahwa apa yang dia lakukan ini benar dan yang terpenting baik bagiku. Maka dia memilih untuk terlihat galak dan jahat didepanku. Tough love katanya.

Benar saja, setelah aku selesai sibuk mengasihani diriku sendiri yang sudah dimarahi oleh dia, akupun mulai berpikir dan ternyata, apa yang dia katakan adalah benar. Dan aku menyadari betapa dia mencintaiku karena dia ingin aku berubah menjadi lebih baik, bukan hanya untuk dia tapi untuk diriku sendiri.

Lelaki yang kusebut sebagai Guru.

Lelaki yang adalah suami, sahabat, dan kakak ini; ternyata juga seorang guru. Dia mengajarkanku banyak hal.

Dia mengajarkanku bahwa orang itu harus penuh inisiatif, jangan hanya menunggu perintah, tapi cari apa yang bisa kamu kerjakan.

Dia mengajarkan bahwa orang itu jangan menunggu kesempatan, tapi harus menciptakan kesempatan untuk dirinya sendiri, lebih bagus lagi untuk orang lain juga.

Dia mengajarkan bahwa jangan takut untuk berubah, karena mungkin perubahan adalah hal terbaik yang bisa terjadi dalam hidup seseorang.

Dia mengajarkan untuk bekerja keras dan tidak mengeluh. Karena bagaimana kita mau melakukan sesuatu dengan baik apabila kita memulainya dengan tidak semangat.

Dia mengajarkanku bagaimana caranya siaran dan menjadi MC. Sesuatu yang aku pikir bukan diriku sama sekali.

Dia mengajarkanku caranya berkomunikasi dengan orang lain, walaupun aku sedang merasa tidak ingin berbicara dengan siapapun.

Dia mengajarkanku bahwa Tuhan yang akan mencukupkan semuanya, jadi jangan takut dan cemas dalam hidup, karena semua sudah diatur oleh DIA. Dia mengajarkanku untuk berserah pada Tuhan. Pelajaran yang paling berharga dari semuanya.

Lelaki yang kusebut sebagai Pacar.

Walaupun masa pacaran kami terhitung lama, hampir lima tahun; tapi kami rasanya tidak bosan untuk terus pacaran. Sampai akhirnya menikah, kami memutuskan untuk menunda selama dua tahun untuk memiliki anak dan berpacaran dulu. Kapan lagi bisa pacaran dan tidur sekasur tiap malam (pikirku).

Masa pacaran kami terhenti ketika lahir Sky, dua tahun pertama setelah kehadiran Sky, susah untuk kami berpacaran karena Sky masih minum ASI, langsung dari “botolnya”. Jadi kami jarang bisa meninggalkan Sky untuk pergi berdua.

Sekarang setelah Sky lumayan besar, kami bisa nonton bioskop lagi berdua. Kadang, kami pergi keluar kota berdua, menikmati waktu menjadi sepasang kekasih. Menemukan lagi apa yang menjadi alasan kami saling mencintai satu sama lain.

Kadang, pacarku ini meremas pantatku ketika aku sedang jalan di depannya. Kadang dia menggenggam tanganku ketika berjalan bersama. Kadang dia mengendus leherku atau meminta mencium ketiakku.

Dia masih menjadi pacarku sampai saat ini, dan semoga sampai pantatku sudah terlalu lembek untuk diremas.

Lelaki yang kusebut sebagai Manusia.

Tenang saja, aku menikahi manusia kok. Lelaki ini juga punya sifat dan kebiasaan buruk.

Dia sering mengupil.

Dia suka menjatuhkan barang.

Dia sering lupa letak barang-barang yang disimpannya.

Dia sering buru-buru sampai lupa bawaan.

Dia kadang tidak sabaran ketika menyetir.

Dia tidak suka membuang-buang waktu dan kadang menjadi marah karena itu.

Dia tidak suka perubahan rencana.

Dia tidak suka dikalahkan oleh orang lain (kecuali menurut dia orang ini memang pantas).

Ah. Walau kadang kami bertengkar dan berselisih paham, tapi tetap dia yang paling sempurna untukku. Sempurna dengan segala kekurangannya. Sempurna karena diapun juga manusia, sama sepertiku.

Enam tahun. “Baru” enam tahun. Sampai kapan kami bersama? Akupun tidak tahu jawabannya. Tapi yang kutahu adalah aku akan menikmati setiap waktu bersama dia, karena masih banyak yang belum kuketahui tentangnya dan aku masi menunggu pelajaran apalagi yang akan aku dapatkan dari hidup bersamanya.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-6, Ernest Prakasa, teman, sahabat, kakak, guru, pacar, dan tentunya suami. Terima kasih untuk selama ini, dan mari memulai hidup baru kita di Bali.

Standard