Baik&Jahat.

Orang baik sudah terlahir baik atau dididik menjadi baik atau memilih untuk menjadi baik?

Orang jahat sudah terlahir jahat atau meniru perbuatan jahat atau terpaksa berbuat jahat?

Dunia dihuni oleh orang-orang yang lemah lembut dan baik hati, selalu siap menolong orang lain, berbuat kebaikan pada sesama baik yang dikenal maupun pada orang asing sekalipun.

Tapi, penghuni dunia juga adalah para perampok, koruptor, pembunuh, pemerkosa.

Padahal kita semua lahir dari rahim Ibu, manusia.

Yang jahat tidak lahir dari rahim binatang buas. Dan yang baik tidak lahir dari rahim malaikat atau bidadari.

Semua lahir dari rahim manusia. Kenapa bisa berbeda?

Apakah karena sifat bawaan dari orangtua? Mungkin karena dibuahi oleh sperma seorang pembunuh juga? Atau karena lahir dari rahim seorang penyiksa maka seorang manusia dapat dengan tega merampok dan membunuh korbannya?

Atau keadaan yang memaksa?

Atau karena terbiasa melihat dan merasakan hal yang sama, bisa mengubah seseorang menjadi jahat?

Tolong bantu aku menjawabnya.

Advertisements
Standard

[Fiksi] Tertidur, terbujur.

Aku belum pernah melihat kematian dari jarak yang begitu dekat.

Disitu dia dibaringkan, hanya tiga puluh centimeter dari tempat ku duduk. Badannya diselimuti kain batik. Aku ingat aku memiliki kain yang mirip dengan itu untuk menggendong anakku. Aku bisa melihat tangannya yang dilipat dan diletakkan diatas perut, telapak tangannya saling bertumpuk. Bagian kepalanya ditutupi juga, tidak dengan kain yang sama. Tapi dengan kain putih transparan. Kain yang membuat semua orang yang datang kesini makin bergetar hatinya.

Dibalik kain transparan itulah, wajahnya terlihat seperti sedang tertidur pulas. Perbedaannya, hidungnya disumbat oleh kapas. Hanya orang yang ingin bunuh diri yang akan tertidur dengan menutup lubang hidungnya dengan kapas. Mulutnya terkatup rapat, begitupula dengan matanya.

Seperti sedang tertidur lelap.

Ya, aku pikir dia memang hanya tertidur. Mungkin dia sangat lelah. Melawan penyakit yang mematikan memang bisa sangat melelahkan. Mungkin dia hanya ingin memejamkan matanya sebentar, agar bisa terbangun dan mulai melawan kembali penyakitnya ini.

Tapi, sepertinya walaupun ada gempa bumi dan banjir merendam tempat ini, dia tidak akan terbangun. Walaupun teriakan dan tangisan orang-orang tersayang yang menyayat hati dan memenuhi seisi ruangan, dia tidak akan terbangun.

Matanya akan tetap tertutup.

Oh, betapa hal ini sulit kuterima. Jasadnya masih ada disini tapi orang ini yang kupikir sedang tidur ini tidak akan pernah bangun lagi dan meminta teh atau kopi, lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk menjalani harinya. Orang yang seperti sedang tertidur ini, tidak bisa lagi berbicara padaku dan membahas hal-hal yang kami anggap lucu.

Ah, betapa otak dan pikiran kita memiliki keterbatasan. Mereka tidak akan bisa menerima keadaan seperti ini. Yang otak ketahui adalah, orang akan bangun lagi setelah tertidur. Tapi, hanya iman yang dapat mengatakan bahwa ada saatnya orang akan tertidur dan tidak akan bangun kembali. Sampai kapanpun juga.

Mungkin aku harus mengubah pola pikirku sebelum aku kesini. Mungkin seharusnya aku membawa iman saja, dan meninggalkan otakku di rumah. Karena otakku sekarang memerintahkan hatiku untuk bersedih, terluka dan menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuh itu. Otaku memerintahkan pikiranku untuk tidak mempercayai hal ini. Otakku memerintahkan diriku untuk ikut mati.

Bolehkah aku ikut mati? Apakah proses ini bisa kulakukan sekarang juga? Karena aku ingin mengejar dia. Semoga dia belum jauh, jadi rohku bisa menggandeng rohnya dan kita akan sama-sama pergi. Kesana. Kemanapun kematian membawa. Karena ku tidak takut, jika bersama dia.

Standard

Tentang bahagia

Hidup hanya satu kali.

Cih, klise.

Memang.

Tapi, tidak ada yang salah dengan selalu mengingat bahwa hidup memang hanya satu kali.

Agar kamu selalu ingat untuk tetap “hidup” dan tidak terjebak dalam kematian pikiran.

Karena, kadang para pemberani adalah orang-orang yang tidak takut untuk hidup.

Karena mati, berarti memutuskan dirimu dari segala persoalan dan beban hidup.

Jadi, jika kamu memutuskan untuk mengakhiri hidupmu sebelum waktunya, artinya kamu memilih lari dan tidak mau menghadapi.

Itu jauh dari berani.

Hidup hanya satu kali.

Tidak bisa memilih, maunya sekarang bisa mati dan memulai dari awal lagi.

Tidak ada pilihan itu.

Yang ada pilihan untuk bahagia atau tidak bahagia.

Karena hidup hanya satu kali.

Kalau tidak bahagia dikehidupanmu yang ini, mau kapan lagi?

Karena kita tidak bisa memilih kapan kita hidup atau kapan kita mati. Tapi, pilihan untuk menjadi bahagia, ada ditangan kita.

Ya, segampang itu saudara-saudara.

Jangan bandingkan kebahagiaanmu dengan orang lain.

Karena kamu bukan mereka dan mereka bukan kamu.

Kebahagiaan kamu belum tentu akan berarti bagi mereka dan sebaliknya.

Jadi, pilihan untuk bahagia itu ada, tapi tidak sama untuk setiap orang.

Tidak butuh orang lain untuk jadi bahagia, jadikan bahagia itu milikmu dan mungkin nanti kamu bisa membaginya.

Dengan begitu, hidupmu akan jadi berguna.

Jadi, apabila waktu hidupmu habis, kamu bisa pergi dengan bahagia.

Tentukanlah pilihanmu dari sekarang.

Karena kita semua akan mati, tapi tidak semua dari kita akan bahagia

Standard

Gugup

Akankah dia lembut dan pengertian, membelai kelaminku dengan penuh kesabaran.

Akankah dia kasar, membuat kelaminku menjadi gusar.

Atau

Akankah dia lemah, bahkan kelaminku tak mampu dia jamah.

Ah. Aku takkan tahu apabila tak kucoba.

Kupegang dan kuperhatikan.

Tapi tidak boleh lama-lama.

Karena sudah kulihat ada sepasang kaki diluar sana, yang menungguku di balik bilik ini.

Baiklah, semprotan toilet, sekarang aku sudah siap.

Standard

Pantai Malam Ini

Tidakkah kamu merasa lelah, ombak?

Bergulung dan bergulung, pecah menjadi buih lalu kembali menjadi air ke tengah laut.

Tidakkah kamu merasa ingin melawan, awan?

Bergerak mengikuti kemana angin membawamu dan tidak bisa mengambil keputusan untuk tinggal dimana kamu mau.

TIdakkah kamu merasa hina, pasir?

Diinjak oleh ribuan bahkan jutaan pasang kaki yang tidak kamu tidak kenal, setiap hari. Ditiduri dan diduduki oleh pantat yang tidak meminta ijinmu sebelumnya.

Tidakkah kamu ingin ikut turun kesini, bintang?

Karena diatas sana kamu hanya bagian dari langit yang sangat luas. Kamu hanya titik.

Tidakkah kamu ingin merekam semua ini, indraku?

Ketika aku dan dia, duduk diatas pasir, mendengarkan suara ombak yang membosankan sekaligus menenangkan, melihat awan yang bergerak pasrah mengikuti angin, dan menyadari bahwa kami adalah seperti bintang. Hanya titik di dunia ini.

Bali, 2 Okt 2012

Standard