Tiga Puluh Dua.

Tiga puluh dua tahun, Ernest. Kira-kira apa yang ada dipikiranmu dulu ketika menghayal tentang umur ini? Apakah yang sekarang kamu jalani dan miliki sudah melebihi keinginanmu atau mungkin belum cukup memuaskan untukmu?

 

Menjadi seorang full-time standup comedian yang bisa keliling Indonesia. Menggelar show tunggal yang dihadiri ratusan bahkan ribuan orang dalam satu hari. Main di film action-comedy yang akan ditayangkan perdana di bioskop pada ulang tahunmu. Bisa ditonton dan satu panggung bersama Bapak Ahok wakil gubernur DKI Jakarta, pahlawanmu. Dikenal banyak orang, yang kadang meminta foto bersama denganmu. Bekerja sama dengan orang-orang yang dulu hanya bisa kamu lihat di televisi. Akan menjadi host Stand Up Comedy Indonesia season 4 di Kompas TV, walaupun sebenarnya kamu mendamba-dambakan untuk menjadi juri.

 

Tinggal di Denpasar bersama istri dan anakmu. Menghindar dari segala kemacetan, polusi dan bisingnya ibukota; walaupun artinya beberapa pekerjaan jadi tidak bisa kamu ambil karena perbedaan kota. Tidak ada gedung-gedung yang terlalu tinggi sehingga menutupi pandanganmu dari mengagumi indahnya langit dan awan. Bisa bermain di pantai dengan setengah jam perjalanan dari rumah. Melihat anakmu yang semakin pintar dan berani sepertimu. Melihat perkembangannya dari belum bisa berenang sama sekali, sampai sekarang bisa menyelam dan kadang meminta untuk  kau lempar badannya ke dalam air.

 

Tidak harus pergi ke kantor setiap hari. Tidak mengandalkan weekend sebagai hari untuk berkumpul dengan keluarga. Tidak harus mengajukan cuti agar bisa pergi berlibur. Walaupun kadang kamu harus pergi berhari-hari meninggalkan keluarga untuk bekerja, dan hanya melihat wajah anak dan istri di layar handphone. Tidak ada atasan yang harus kamu senangkan dan patuhi perintahnya. Bekerja sendiri dengan kemampuanmu sendiri dan memetik hasilnya sendiri. Walaupun artinya akan ada orang yang tidak mendukung atau membenci apa yang kamu lakukan.

 

Tiga puluh dua tahun, Ernest. Walaupun hanya punya satu mobil dan bukan keluaran paling baru. Rumah mungil yang masih KPR dan lokasinya masuk ke gang kecil yang hanya muat satu mobil. Tidak setiap tahun jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarga. Makan di luar pun masih pilih-pilih yang tidak terlalu mahal. Tidak semua barang yang kamu inginkan bisa langsung dibeli.

 

Tapi selama tiga puluh dua tahun ini, semua orang-orang yang kamu cintai dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan suatu apapun. Kamupun selalu dilindungi dalam setiap perjalananmu sehingga selalu sampai di rumah dengan utuh, dimana istri dan anakmu menunggu dengan sungguh.

 

Selamat ulang tahun, Ernest. Semua yang sudah kamu kerjakan dengan keringatmu sendiri membuatku bahagia dan bangga karena kamu mau membagi pengalaman ini denganku. Walaupun aku yakin semua ini belum ada apa-apanya karena kamu akan menjadi lebih besar dan lebih besar lagi. Menaiki tangga yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Semoga aku masih bisa hidup dan mendampingimu berjalan menaiki tangga itu.

Advertisements
Standard

[FIKSI] I want to run.

“I want to run.”

“You mean lari di treadmill gitu di gym?”

“No. Run as in running away from home.”

“What? Why??? I thought you’re happy!”

“Err.. I am.. Well, tepatnya, gue pikir gue bahagia. Tapi ternyata ada yang kosong.”

“Kosong gimana?”

“Kosong aja. Empty.”

“Yeah, I know what kosong is in English, Mrs. Smarty Pants”

“But… I’m not wearing my smarty panty right now..”

“Argh! Sssh..This is not a joke! Jangan mengalihkan pembicaraan! Gue lagi nanya sama loe, apa maksudnya kosong, or whatever emptiness that you were talking about!”

“Maksudnya, ya gue ngerasa hampa.”

Oh, for crying out loud! Just get to the friggin point will yaa??”

“MAKSUDNYA GUE PENGEN KABUR! GAK PENGEN JADI ISTRI! GAK PENGEN JADI IBU! GAK PENGEN NYUAPIN, NYIAPIN KOPI, MASAK, BERESIN RUMAH. I WANT TO BE SOMEONE ELSE!”

“Hey, can’t you see that we’re NOT in the middle of a jungle? I can hear you loud and clear, Houston!”

“Sorry”

“Yeah, you better be. Yelling at me like that.”

“HEYY.. You asked for it!!!”

“Ok. Slow down missy. Nih, minum dulu teh nya. Kita bicarakan baik-baik.. Lo punya selingkuhan ya?”

(keselek) “What the fuck? You think I’m THAT low?”

“Hey, having a selingkuhan is not low. It’s called being a human.”

“That’s bull-crap!”

“Daripada loe yang pengen kabur? Lari dari kenyataan.”

“It’s NOT the same. Gue enggak menyakiti siapa-siapa. Gue tetep cinta anak sama suami gue, tapi gue cuma ga bisa ada disana bareng mereka. Gue pengen pergi dan  jadi diri gue sendiri aja. Daripada gue bareng-bareng mereka dan gak bahagia, malah bikin mereka jadi gak bahagia juga.”

“So you think, you won’t hurt them by leaving them? Are you drunk or something? Mana ada  orang yang ga sakit hati ditinggal sama anggota keluarganya begitu aja. You are selfish, you know that?!”

“Me selfish?” (mendengus) “Yang udah nikah tapi nunda-nunda terus mau punya anak karena takut ganggu karier itu siapa ya? Bukan gue deh perasaan.”

“Don’t make this about me! It’s about you! Loe yang telpon gue pagi-pagi untuk minta ketemuan. This is saturday morning, it’s suppose to be my day off. Instead, I’m here, listening to your escape-from-prison-plan.”

“Who says my family is like a prison? I never said that.”

“So why do you want out of your family? The husband and children who love and adore you?”

“Karena semuanya udah jadi rutinitas! Get it? Gue udah tau apa yang bakalan terjadi hari demi hari. Hidup gue itu kalo ibarat pisau udah tumpul. Mau disayatin ke pergelangan tangan juga gak akan menghasilkan berita korban bunuh diri.”

“Ish. Apaan sih loe, mulai deh bunuh diri bunuh diri. Don’t start, ok? I still remember that night. I don’t want to lose you again.”

“Awww. You do care” (big grin) “Gue suka deh kalo lo udah care banget gitu. It’s like you’re really my friend.” (chuckles)

“Hey, I’m not just your friend. I’m your ONLY friend.”

“Yes. Thank’s for reminding me that I’m a lonely bitch.”

“I didn’t mean that” (sigh) “Balik lagi ke bahasan awal yuk? Why do you wanna leave? Where? And how?”

(sigh) “Gue pengen ke Belanda, sekolah lagi. I already did some research. Gue bisa apply buat scholarship S2. Gue selalu pengen belajar tentang komunikasi. You know how much we hate Bussines Study?”

“Hey, don’t look at me, this business degree has giving me A LOT of money.. Loe aja tuh yang gamau mempergunakan talenta loe dibidang ini. Dengan IPK yang loe punya harusnya kerjaan gue sekarang bisa loe ambil dengan gampang.”

“But I chose not to do that. Instead, I marry my high school boyfriend and got pregnant with two kids.”

“Well yeah. Because that was exactly what you want. Right?”

“Right.”

“….”

“….”

So, do you regret being married to him?”

“Well, no. I love him.”

“You love him, but you can’t stand being around him and your two adorable children?”

“If you think that my children are so adorable, why not get pregnant yourself? Kenapa nunda-nunda sampai sekarang? It’s been 5 years. Tiap kali kita ketemuan bareng dan ada suami lo, dia selalu pengen gendong anak gue. Can’t  you see the look on his face? He wants a child really really bad.”

“I said, this is NOT about me. Kalo gue pengen curhat tentang gimana suami gue yang makin hari makin males pulang karena katanya di rumah sepi, ga ada suara anak kecil; gue yang akan telpon lo untuk ketemuan Sabtu pagi-pagi. Bukan sebaliknya. Jadi sekali lagi, today is not about me. You’re the one who has a problem.”

“Oh my God. He actually said that to you? Dia males pulang ke rumah karena ga ada suara anak kecil?”

“Yep.”

“Kok.. Lo ga bilang ke gue?”

Gue tau diri. Suami gue ngomong gitu ya karena gue yang belum mau terus diajakin punya anak. Gue tau diri, kalo gue curhat ya pasti lo akan bilang itu salah gue atau cuma gue yang tau gimana cara nyelesain itu. Right?”

“Errr.. Iya sih.”

That’s why I never share that story with you.”

“Lo ga takut ya kehilangan suami lo? Susah lho nyari suami yang seneng bangun lebih pagi dan dengan suka cita bikinin istrinya breakfast. Trus, mau aja lagi disuruh ikut shopping keluar masuk butik tanpa ngeluh sama sekali.”

“Hahahaha.. He’s kind of rare a husband-species huh?”

“Indeed darling. You might want to hold on to him for the rest of your life.”

“Unlike you?” (grin)

“Heeyyy.. Don’t change the subject!”

“We already change the subject dari tadi, Neng. Sekali lagi, hari ini kan tentang lo bukan tentang gue.”

“But, I care about you too, you know. Agak sedih sih sebenernya, karena lo tau seluk beluk tetek bengek bau ketutnya gue, but I know so little about your life. Well, about your marriage life to be exact.”

“Well, you know I don’t like to share.”

“Iya, lo emang pelit!” (sambil nyomot Beard Papa yang ada di meja)

“Hey, that’s mine!”

“Sharing is caring, baby.” (ngomong dengan mulut penuh)

“Ugh. You’re such a pig. Well, a pig with Tyra Banks body. I hate you sometimes.”

“Hahahha.. So I’m like Miss Piggy, only hotter?”

“Kind of.. Hahahha!”

“My kids would love that! They can’t stop watching The Muppets. Pulang sekolah, pasti langsung nanyain DVD itu.”

“See? You love your kids!”

“Yes, I love them. Of course I love them, I voluntarily let them ruin my friggin vagina. Twice!”

“Hahahaha.. There’s always a C-Section option you know?”

“ No. I want to experience it. The motherhood thingy. Katanya kalau melahirkan normal itu baru jadi ibu sejati. And that’s also bull crap!”

“Huahaha.. Why is that?”

“Karena sakitnya sama aja Nyeettt! Gue malah salut liat temen-temen gue yang abis caesar langsung disuruh duduk lah jalan lah. Ngebayanginnya aja ngilu gue. Ugh”

“Kampret lo!”

“Lah kenapaa?”

“You make me don’t want to have kids even more!”

“You’re such a baby!”

“Hey! I’m NOT a baby and I don’t intend to have one anytime soon. My life, my decision!”

“NO. Wrong! It’s not only your decision to make, it’s also his. You’re not being fair to him. Your husband wants a child. Your child. Is that too much to asked?“

“For me it is.”

“Why do you worry so much? Do you need the right time to be a mom? You will never be ready. There’s no school to be a good mom. Heck, there’s no such thing as a good mom. Semuanya juga terus belajar kok, ga ada yang gak pernah bikin salah. Memang harus terjun langsung. Mungkin lo akan jatuh. Kaki lo luka, perih, trus abis itu lo baru belajar gimana berdiri lagi dan gimana ngobatin lukanya dan bikin kaki lo jadi mulus lagi.”

“Damn that reminds me, I have to make an appointment with my skin care doctor.” (ngubek-ngubek tas cari henpon)

“Argh! Whateverrr.. Capek gue ngomong sama lo!”

“Hey, I didn’t ask for your opinion” (sambil beneran masukin jadwal ke skin care di calendar)

“I’m scared for you”

“Please don’t be. I’m okay. We’re okay. In fact I’m sure our parents are okay with this decision.”

“You think so?”

“I know so.”

(sigh)

“Hey, are your kids okay? I mean, with you spending this Saturday with me and not with them?”

“They’re at my parents house, just dropped them off before I went here.”

“Oh, baguslah. So you’re free for today?”

“Yep.”

“And your husband?”

“Ada kerjaan di luar kota. Senin baru pulang.”

So, are you going to be there when he’s home?”

“ Of course I am. What do you mean by that?”

“Hahhaha.. Katanya pengen kabur dari rumah”

“Ah kampret lo” (tendang kakinya dari sebrang meja)

“Awww!”

“Hahhaha.. Don’t mess with my “Tendangan Tanpa Bayangan””

“Sakit monyooongg!” (Bales nendang)

“Anjrit! Hahahha.. Sakit juga taukk! Udah ah, what are we? Three? We’re 35 for God’s sake. Behave sedikit laahh..”

“Lo yang mulai!”

“Yaudah sori.. Hihihi.. Itu ABG di meja sebelah mulai ngeliatin kita tauk.”

“Hah, yang mana?” (Sambil celingukan)

“Yaelah, pake dicari lagi. Udah tau gw ngomongnya pelan-pelan biar ga ketauan, lo pake nyari-nyari mereka segala.”

“Abis gue sebel, apa hak mereka ngeliatin kita? Emang cafe ini punya mereka? HAH?”

“Ssttt.. Udah ah, you’re being a tante-tante gengges tauk.”

“Idih, lo aja sana yang jadi tante-tante, gue sih masih oke.”

“Eh, salah neng. Lo itu tante-tante. Gue mah udah masuk kategori ibu-ibu and I’m proud of that.”

“That’s sad but true! Oh, I wish ABG itu pada cepet tua kayak kita. Hahahaha..”

“Ohh.. The good old days yaa.. Gak mikirin harus masak apa hari ini, anak-anak udah mandi atau belum, nyiapin sarapan suami tiap pagi, mikirin tetek yang makin kendor tiap hari”

“Buwhahahhahha” (kejengkang) “Makanya gausah punya anak dong, kayak gue! Tetek tetep yahud!”

“Idih, gue sih mendingan tetek kendor tapi gue tau tetek ini sudah berjasa memproduksi ASI buat anak gue dua-duanya.” (sambil meremas payudara sendiri)

“Iya deehhh yang duta ASI Indonesia bagian barat daya.”

“Hahaha.. Kampret lo ah!”

-Bunyi telpon-

“Eh, bentar ya. Laki gue telpon nih” (klik OK) “Ya beb ..  Iya masih disini .. Iya berdua .. Gatau deh jam berapa .. Kamu main game aja sana, udah lama enggak kan? Hahahha .. Okay, love you too!” (klik OFF)

“If you really love him, give him kids.”

“And if you really love your family, stay!”

(sigh) “We’re such a bad person huh?”

“Yes. We’re bad in our own ways. We’re so good at being bad. Jadi inget masa-masa kuliah kita. Gila ya, ngapa-ngapain bareng, kemana-mana berdua, bolos kuliah sama-sama. Cuma ga tidur sekamar aja.”

“Yeah. Good times..” (menerawang)

“Happy times”

“Why can’t we be happy now? Everything’s so complicated.”

“Yeah, I know how you feel.”

“Mungkin ini proses pendewasaan.”

“Hhahahha.. Bahasa lo, Neng!”

“Makin dewasa kok makin gini ya gue? Harusnya kan udah lewat fase-fase galaunya. Udah ga pantes!”

“Lo sebenernya mau apa sih? Gue yakin kok ada jalan keluarnya selain lo pergi jauh dari anak-anak dan suami lo. Gue yakin ini cuma kegilaan sesaat. Gue yakin lo adalah istri dan ibu yang baik. Lo udah bukan orang yang gue kenal jaman kuliah.”

“What do you mean?”

I mean you’ve changed since college. A lot. And I’m beyond proud”

“Hey, don’t get all sentimental with me.”

“I love you. You know that right?”

“Of course. I love you too.”

“(with soft voice) No you don’t. ”

“… Oh my God. This is not about your career isn’t it? It’s about me!”

“I don’t want kids, I want you.”

“Gosh. You know that’s not right. You have a husband who adores you. And it was just that one time. You caught me off guard. That’s not fair, you know I was vulnerable.”

“Yes, I will never forget that day. Ngeliat pemandangan lo duduk pegang pergelangan tangan yang berdarah. That’s forever tattooed on my mind. But I keep you safe, didn’t I? And you said that you need me.”

“It was a mistake. We were wrong to do that.”

“You know what, let’s just not talk about that. Lo telpon gue kemarin dan pengen ketemuan aja gue udah seneng banget. Trus lo cerita lo pengen kabur dari rumah, lo tau gimana perasaan gue? Gue pengen bilang, lo kabur kemanapun gue anterin. Ke Belanda ke Timbuktu, kemana pun. I’ll pack my bags tonight kalau perlu. But I want to be your best friend, jadi gue pengen lo pikir-pikir lagi kegilaan lo ini. Walaupun itu berarti gue kehilangan kesempatan untuk bisa dapetin lo.”

“Oh my God.”

“Look, I will always always have your back. I know that you will never understand my feelings for you, but I know that this feeling is true. It’s been going on for ten years now.”

“Gosh, I’m such an ass. I’m so sorry. Gue pikir lo udah get over me and move on with your life.”

“I wish, it’s that simple.”

“So, what happens now?”

“I don’t know. You tell me. I said I’ll pack my bags tonight if you want me to.”

“Oh, gosh!”

“Kenapa? Takut?”

“Iya, lo selalu beneran kalo ngomong apa-apa. That scares me.”

“Lo juga, bilang mau bunuh diri waktu itu, beneran aja. Demi laki-laki brengsek pula. Lo tau ga sih perasaan gue waktu itu? Pengen gue bakar idup-idup si bangsat kampret raja singa itu.”

“Hahahahha.. You’re indeed my knight in shining armor!”

“I still am.”

“Oh, what am I going to do with you?”

“Flee with me.”

“What?”

“You heard me.”

“I can’t do that.”

“Can’t or won’t?”

“Both”

“But you just said you wanted to get away from your family, from all of this.”

“I know I said that. But thinking about that makes me sad. Because I know that I’m making a bad decision.”

“Thinking about having a suicide is a bad decision, but wanting to be happy and living your life to the fullest is not a bad decision.”

“But I should be happy with my family, not like this. Not alone.”

“And not with me.”

“That’s not what I mean.”

“It’s ok. Gue tau diri kok. I can’t be in the same picture with you and your family.”

“Errr.. That’s going to be the most dysfunctional family portrait ever, huh? Hahaha”

“Yeah, tell me about it. Hahha”

“Tadi gue dateng pengen kabur, sekarang gue pengen cepet-cepet peluk anak-anak gue. Gue pengen bilang ke suami gue thanks for not being a jerk like that bangsat kampret raja singa.”

“HAHAHHA. You like that nick name huh?”

“Suits the bastard very well.”

“So, you’re coming home now?”

“I guess so.”

“Okay then.”

“Thank you and I’m so sorry.”

“Don’t be. Gue tau kok, cinta sama lo itu salah. Tapi salah gue sendiri kenapa ga bisa move on.”

“Please don’t do anything stupid.”

“No, I won’t. That’s your job.”

“Sialan. So, I’ll see you again next time?”

“You betcha! Please stay out of trouble. I‘m not going to be around forever, you know.”

“Okay. Don’t say that, it’s like you’re going somewhere far away.”

“Hahhah joking, darling.”

“Thanks for everything. I mean it.”

“Just go home to your kids. Dan gue udah ga kuat nih pantat udah panas banget duduk daritadi disini.”

“Hahhahha.. Sorry. Gak bermaksud bikin pantat lo yang udah tipis itu jadi makin ga ada.”

“Kampret lo!”

 

(on the phone)

Hai sayang.

Aku ga akan pulang ya malem ini.

Iya mungkin besok malem dan besoknya lagi juga.

Iya, akhirnya dia pilih keluarganya.

I’m ok.

You should too.

Just follow your heart, darling.

I know he’ll make you happier.

You deserve it.

I’ll deal with my mom and dad.

So (sigh) thanks for this awkward five years.

I hope you guys can adopt a baby together.

I know how you love kids.

So I think this is goodbye.

Aku ga akan pernah lupa sama kamu, suami gadunganku.

Standard