Pilih Sendiri “Tukang Kritik”-mu.

Selain belajar memahami orang lain (pasangan), saya percaya bahwa menikah bisa dijadikan sebuah usaha untuk lebih mengenal dan memperbaiki diri kita sendiri.

Tidak banyak teman atau sahabat yang akan mencatat, membongkar dan mengobrak-abrik semua kebiasaan, kelebihan dan keburukan kita. Berdasarkan pengalaman saya berteman (yang memang tidak terlalu banyak ini), hanya sedikit yang yang benar-benar bisa bilang “Jangan gitu dong!” kalau saya melakukan hal buruk. Atau “Aku gak setuju!” kalau pendapat kita kurang oke menurut mereka. Kebanyakan dari kita selalu terbentur dengan rasa “gaenak-gaenakan” dan takut akan menyinggung perasaan yang membuat suasana pertemanan jadi aneh dan awkward. Jadi, lebih banyak yang akan “main aman” dengan menyetujui pendapat kita atau gak akan bilang apa-apa kalau kita berbuat salah (kecuali kita bertanya duluan).

Tapi, ada juga kok teman atau sahabat yang cukup berani yang akan menegur kalau kita salah, atau gak takut berbeda pendapat sama kita, dan mengingatkan kalau kita akan (atau sudah) melakukan hal-hal bodoh. Kalau temanmu seperti itu, bersyukurlah. Berarti dia sayang* 🙂

(*) Dengan catatan, dia juga mau dikritik dan dikasih masukan ya sama kita.

Nah, kalau pasangan kita melakukan hal yang sama (menegur, memberi kritik dan masukan, mengingatkan kalau kita salah) berarti dia juga sayang sama kita*.

(*) Dengan catatan, dia juga ikhlas menerima semua masukan kita ya.

Karena percayalah, kalau dia bisa menegur atau memberi masukan tanpa diminta, berarti dia secara sadar mau memberikan waktu yang cukup banyak untuk memperhatikan kita. Berarti kita berharga buat dia. Berarti dia ingin kita menjadi lebih baik lagi.

Saya bersyukur menikahi sahabat saya yang mulutnya bisa pedes banget padahal dia berjenis kelamin laki-laki. Saya bersyukur banyak diingatkan, walau kadang tegurannya membuat ingin masuk kamar dan pasang lagu galau trus nangis berhari-hari sambil makan eskrim. Saya bersyukur dia gak bosen mengingatkan tentang kebiasaan buruk yang sering saya ulang-ulang-ulang lagi. Saya bersyukur dia mau bersusah payah mencari cara untuk membuat saya semangat lagi setelah down karena menerima kritikan.

Bagaimanapun cara penyampaiannya, tapi kalau dipikir-pikir lagi semua itu memang untuk kebaikan saya. Karena gak semua orang bisa langsung sadar ketika mereka salah ngomong atau salah tulis atau salah ambil keputusan. Kadang, yang paling bisa melihat itu adalah orang yang paling sering berada bersama dengan kita.

Jadi, ketika kita memilih seseorang untuk menemani kita; secara gak langsung kita juga memilih orang yang akan kita biarkan menegur dan memberi masukan pada kita. Kapan saja.

So, choose wisely, my friends 🙂

Standard

Pesta demokrasi bukan dekorasi!

Kali ini kita beneran ikut pesta demokrasi, bukan hanya “dekorasi” macam jaman dulu.

Gini yah, gue lebih ngehargain orang yang ribut ngebelain capres pilihannya, walaupun gak sama pilihannya sama gue.
Daripada yang cuma bisa nyinyir, dan menganggap semua ini LIKE A BIG JOKE!
This is not a friggin joke!

Apa yang kita pilih tgl 9 nanti akan ngaruh ke kehidupan kita semua. Gue percaya itu. Memang kita akan tetep harus kerja, harus brangkat kantor, lembur, ibu2 tetep harus masak, mandiin anak2. Kita ga akan instan jadi kaya raya! Ga ada yang berubah di rutinitas kita, tapi semua keputusan pemerintahan yg diambil sama org2 yang kita pilih akan mempengaruhi kehidupan kita. Apakah negara ini akan lebih maju atau terpuruk. Lebih banyak korupsi atau etos kerja diperbaiki. Kalopun kita ga ngerasain langsung, anak cucu kita yang akan ngerasain perubahannya.

Salah satu perubahan yg udh kliatan adalah kemarin di GBK, gue baca kalo banyak yg ngumpulin sampah dgn sukarela, dan orang-orang beneran buang sampah di trash bag yg disediakan. INI BENERAN DI INDONESIA? Gue aja kaget! Ini bukan tentang kampanye capres yang mana, tapi tentang kebiasaan yg berubah kearah yg lebih baik. Dan ternyata kita bisa. EMEIJING BUKAN? :’)

Dan ada banyak banget aktivis dan org2 yg dulu ga peduli sama politik dan pemerintah, SELALU GOLPUT TIAP PEMILU, tapi kali ini bela2in ke TPS dan milih. Antusiasme di luar negri juga gila. Sampe pada antri mo milih.

But then again, siapa gue ngatur-ngatur hidup orang. Kalo memang menurut sebagain orang, hidup mereka lebih penting daripada peristiwa pesta demokrasi yg cuma 5 tahun sekali ini, ya hak mereka lah. Cuma, gue akan melihat mereka dengan cara berbeda 😉

Hak gue juga kan?

Standard